JAKARTA – Kembali menggeliatnya industri pertambangan batu bara menjadi berkah bagi perusahaan jasa angkutan pelayaran batu bara untuk memacu pertumbuhan bisnis lebih agresif lagi. Hal inilah yang dirasakan PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI). Setelah mencatatkan pencapaian kinerja keuangan yang cukup di paruh pertama 2018, perseroan menargetkan pendapatan hingga akhir tahun ini tumbuh 20% dibandingkan 2017 yang tercatat senilai USD49 juta atau menjadi USD58,8 juta setara Rp710 miliar.
Direktur PT Pelita Samudera Shipping Tbk, Harry Tjhen mengatakan, pertumbuhan pendapatan seiring dengan harga batubara yang diperkirakan tetap stabil di kisaran USD80 hingga USD100 per metrik ton hingga 2020 mendatang. Selain itu, permintaan ekspor batu bara juga meningkat terutama dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara sehingga mendorong pertumbuhan jasa transportasi batu bara milik perseroan.”Jadi kalau kita melihat industri batubara kita cukup stabil mulai 2017 jadi supply dan demand ditopang juga dari banyaknya pembangkit dalam negeri yang akan dioperasikan secara maksimal. Kondisi ini membantu industri batubara, dimana akan dikerjakan oleh perseroan,”ungkapnya di Jakarta, seperti dikutip Harian Neraca, Jumat (21/9/2018).
Dirinya juga menambahkan, peningkatan pendapatan tersebut seiring dengan penambahan armada kapal tunda dan tongkang perusahaan menjadi 40 unit pada tahun ini. Selain itu, perseroan juga berencana untuk meningkatkan utilisasi fasilitas pemindah muatan batu bara lepas pantai (Floating Loading Facility/FLF) yang sebesar 90% dari sebelumnya 70%. Kemudian untuk mendukung pertumbuhan kinerja tersebut, perseroan mengalokasikan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) senilai USD29 juta yang saat ini sudah diserap sebesar 43%.
Sedangkan untuk capex tahun ini, seluruh dana berasal dari internal kas perseroan. Termasuk dengan dana dari penjualan salah satu aset FLF perseroan senilai USD12 juta.”Alokasi capex masih menggunakan kas internal kami karena masih cukup banyak. Selain itu debt to equity ratio kami juga masih cukup rendah yakni 0,45% pada Juni 2018," ujar Harry Tjhen.
Selain itu, hingga 24 bulan ke depan atau hingga 2020, perseroan juga menargetkan investasi hingga USD50 juta untuk menambah diversifikasi usaha bisnis. Salah satunya dengan melirik usaha pengangkutan mineral seperti nikel. Namun, rencana tersebut masih belum dilakukan dalam waktu yang dekat mengingat fokus perseroan saat ini ialah meningkatkan volume pengangkutan batu bara terkait kontrak-kontrak yang telah dibukukan.”Itu pasti untuk diversifikasi, ya mungkin pada 2020 melihat pasar juga. Kalau loan dari perbankan juga bisa didapatkan karena sejauh ini sudah banyak yang menawarkan ke kami," ujar Harry.