Sedangkan krisis yang dihadapi Malaysia saat ini karena ketergantungan belanja infrastruktur dengan investasi asing dan penurunan ekspor. Pemerintahan Mahathir telah membatalkan proyek yang ditalangi dana dari China senilai 76,18 miliar ringgit (Rp278 triliun) dan proyek subway senilai 15,22 miliar (Rp55 triliun). Itu semua bertujuan untuk meyakinkan investor asing. Ekspor Malaysia juga mengalami penurunan 0,3% pada Agustus lalu. Hal itu menjadikan pertumbuhan perdagangan terendah sejak Oktober 2014.
”Banyak perusahaan Malaysia terkendala dampak perang dagang AS-China,” kata laporkan
United Overseas Bank di Singapura pada laporan terbarunya. Penurunan pertumbuhan ekonomi Malaysia saat ini karena kehilangan pendapatan tahunan senilai 23 miliar ringgit akibat dihapusnya pajak barang dan layanan. Pemerintahan Malaysia sebelumnya menyatakan defisit fiskal sebesar 2,8% dari PDB pada 2018, tetapi pemerintahan baru menganggap hal tersebut tidak realistis.
Tetap Percaya Diri
Pemerintahan kabinet Mahathir akan mengungkapkan anggaran fiskal 2019 pada 2 November mendatang. Mereka memperingatkan tahun yang berat akan dijalani mendatang. ”Anggaran akan dikorbankan, semua akan berkorban, dan kita harus menerima bahwa kita berkorban,” kata Menteri Keuangan Malaysia Lim Guan Eng. Namun, Lim menegaskan, fundamental ekonomi Malaysia masih kuat, meskipun diperkirkan akan mengalami kemunduran. ”Konsolidasi fiskal tidak akan mudah dicapai,” ujarnya.
Dia menegaskan Malaysia tidak akan mengalami defisit ganda, tetapi akan menikmati surplus. Lim menegaskan reformasi institusional yang dilakukan pemerintahan Malaysia memberikan kepastian investor dan kepercayaan terhadap sistem. ”Itu memang tidak muda. Tapi, saya percaya bahwa itu bisa dilakukan. Selalu ada gelap, sebelum fajar,” ujarnya melansir The Star.
Lim mengungkapkan, pemerintah melalui Komite Reformasi Pajak (TRC) berencana melakukan diversifikasi sumber pajak dan mengkaji insentif pajak yang sudah diberikan. ”TRC diberi mandat untuk meminimalisasikan kesenjangan pajak, mendiversifikasi pendapatan pajak, serta membuat sistem pajak lebih netral, efisien, dan progresif,” katanya.
Nanti sistem perpanjangan Malaysia juga bisa meminimalisasikan kebocoran. Dalam analisis Capital Economics, Malaysia akan menghadapi pertumbuhan ekonomi menurun tajam saat Mahathir merenegosiasi investasi China. ”Jika Mahathir memosisikan melawan keterlibatan China dalam proyek infrastruktur akan mengganggu pertumbuhan ekonomi,” kata analisis Capital Economics. Sebelumnya Mahathir Mohamad yakin China akan simpati dengan masalah fiskal internal Malaysia. Pernyataan itu diungkapkan Mahathir saat dia berupaya melakukan negosiasi ulang atau kemungkinan pembatalan proyek- proyek China bernilai lebih dari USD20 miliar.
Mahathir menjelaskan, setelah bertemu PM China Li Keqiang di Beijing, dia tidak yakin dengan konfrontasi dengan negara manapun dan menekankan keuntungan yang didapat Malaysia dari peningkatan perdagangan, teknologi, dan kewirausahaan China. ”Kami juga berharap China memahami masalah yang sedang dihadapi Malaysia saat ini,” ungkap Mahathir saat konferensi pers bersama Li.
(Feb)
(Rani Hardjanti)