“Angka ini seharusnya dapat didorong untuk terus bertumbuh sehingga semakin banyak UKM di Jawa Barat yang go digital . Bukalapak menyadari bahwa para UKM di seluruh Indonesia harus mulai meningkatkan kapasitas mereka untuk menghadapi kompetisi yang semakin kuat,” tuturnya.
Meski di Jatim belum terlalu banyak UMKM yang menggunakan teknologi untuk pemasaran, apa yang dilakukan Siswanto bisa memberi inspirasi kepada pelaku UMKM lain.
Pengusaha Tiwul Cap Istimewa dari Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang ini telah menggunakan marketplace untuk memasarkan produknya meski total penjualan masih di bawah 10%, tapi secara perlahan naik. Menurutnya, dalam bulan ini sudah mampu menjual sebanyak 6.000 pack tiwul atau setara dengan Rp30 jutaan.
Untuk penjualan offline , ia memasarkan dengan cara menggandeng sejumlah toko oleh-oleh yang tersebar di Batu dan Malang. Dia juga menjual tiwul produksinya di pasarpasar tradisional. Hingga saat ini toko yang bekerja sama dengan Siswanto mencapai sekitar 300-an.
“Kalau untuk penjualan online , kebanyakan pembelinya kaum muda (milenial). Misalnya, pembeli dari Pasuruan, Probolinggo, Banjarmasin, dan juga Palembang,” kata Siswanto.