Edukasi Kebencanaan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa percepatan edukasi ini dilakukan agar ada semacam simulasi bencana yang lebih masif. Hal ini sebenarnya tidak hanya untuk sekolah, tapi juga masyarakat luas.
“Tidak hanya sekolah, tapi sebetulnya diarahkan ke masyarakat luas. Kalau sekolah, nanti lebih tersistem ya,” ungkapnya.
Namun, Mendikbud menyampaikan bahwa mitigasi bencana tidak akan menjadi mata pelajaran. Muhadjir mengatakan mitigasi bencana hanya akan menjadi bagian dari proses belajar mengajar di sekolah, tetapi disisipkan dalam mata pelajaran tertentu.
“Ada tiga yang harus ditanamkan kepada anak. Pertama mengenai pengetahuan dan informasi. Kemudian yang kedua hal-hal yang sifatnya teknikal. Ini tentang apa yang harus dilakukan. Lalu, bagaimana yang ketiga simulasi,” tuturnya.
Muhadjir menambahkan, sebenarnya untuk daerah-daerah yang rawan bencana sudah menerapkan edukasi bencana sebagai muatan lokal. Biasanya pengetahuan soal bencana diselipkan dalam kegiatan ekstrakulikuler.
Multiplier Effect
“Implementasinya itu dititipkan ke Pramuka, di KSR-PMI. Bahkan ini sebetulnya nanti punya multiplier effect yaitu bisa mengaktifkan Palang Merah Sekolah, bisa mengaktifkan Korps Suka Relawan (KSR) Sekolah, bisa mengaktifkan Pramuka. Jadi saling menguatkan,” paparnya.
Sementara itu, Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammd Nasir menyatakan telah mewajibkan semua kampus untuk menjelaskan mitigasi bencana kepada masyarakat. Seluruh mahasiswa akan mendapatkan penjelasannya di mata kuliah dasar untuk nanti diteruskan kepada masyarakat.
“Kita jelaskan kondisi Indonesia di ring of fire, apa yang harus kita atasi. Dan nanti pada saat KKN (kuliah kerja nyata) dijelaskan kepada masyarakat,” jelasnya. (Dita Angga)
(Dani Jumadil Akhir)