JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan mengalami defisit sebesar USD2,5 miliar pada April 2019. Hal itu didorong nilai ekspor pada April 2019 sebesar USD12,60 miliar dan impor USD15,1 miliar.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menayatakan, defisif necara perdagangan ini harus diwaspadai. Sebab laju ekspor mengalami penurunan lebih dalam yakni 10,80% dari Maret 2019.
"Walaupun impornya kontraksi, tapi ekspor kontraksinya juga lebih dalam lagi. Jadi ini faktor dari ekspor yang sebetulnya mengalami pelemahan. Kita juga harus waspada," ujarnya ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (15/5/2019).
Baca Juga: Neraca Perdagangan Kuartal I-2019 Defisit USD193 Juta
Dari sisi impor, lanjutnya, mulai dari impor bahan baku dan barang modal juga perlu diantisipasi terhadap industri yang menggunakannya. Sebab ini digunakan untuk pertumbuhan ekonomi kedepannya.
"Sebetulnya sinyal ini menggambarkan ekonomi dunia mengalami situasi yang tidak mudah. Indonesia kalau ingin menjaga pertumbuhan ekonominya di atas 5%, berarti dari sisi komposisi pertumbuhannya itu terutama yang untuk industri manufaktur itu akan mengalami tekanan yang cukup dalam. Pertanyaannya apakah sektor lain bisa mem-backup," jelas dia.
Data BPS menunjukkan, impor meningkat 12,25% dari Maret 2019, terjadi karena impor migas naik 46,99% dan non migas naik 7,82%. Sri Mulyani menyatakan, defisit migas masih besar karena dari sisi volume permintaan meningkat.