Selain disebabkan meningkatnya investasi, pertumbuhan ekonomi juga didorong tingginya pertumbuhan sektor jasa, utamanya di sektor teknologi informasi dan komunikasi yang mendorong perkembangan dunia digital di Indonesia.
Sementara itu, sektor manufaktur yang dibidik untuk menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, tumbuh rata-rata 4,4% per tahun, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi. Hasilnya, sektor manufaktur di Produk Domestik Bruto berkurang hingga kini berada di bawah 20%.
“Berdasarkan studi Kementerian PPN/Bappenas, yang paling penting untuk dibenahi, dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, adalah isu regulasi dan kelembagaan. Regulasi di Indonesia sering kali masih restriktif dan sangat mahal, membuat investor segan berinvestasi. Belum lagi masalah korupsi dan tidak efektifnya birokrasi, serta risiko yang harus dihadapi sektor swasta karena kebijakan yang tidak pasti akibat kurangnya koordinasi di pemerintahan. Ini harus diatasi dengan segera dan serius agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat lebih melesat,” jelasnya.
Sejumlah kebijakan disiapkan agar transformasi struktural dapat berjalan dengan baik dan memiliki dampak
yang signifikan. Pertama, memperbaiki regulasi dan kelembagaan dengan memastikan setiap institusi memiliki fungsi yang jelas, dengan kebijakan yang tidak tumpang tindih dan koordinasi yang efektif. Kedua, melanjutkan pembangunan infrastruktur dengan mendorong perluasan internet dan konektivitas jalan sehingga memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi agar menjadi inklusif.