JAKARTA - Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal II/2019 dapat tumbuh 5,2%. Hal ini didasari pada manajemen makroekonomi yang solid, permintaan domestik yang kuat, dan momentum pertumbuhan yang sudah terjadi di pemerintahan saat ini.
Di sisi lain, kenaikan peringkat dari lembaga rating S&P dan kenaikan indeks kompetitif dari International Institute for Management Development (IMD) diperkirakan akan menambah daftar positif yang membuat Indonesia semakin menarik dan layak sebagai negara investasi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi akan terus berkelanjutan. Peningkatan investasi, mendorong ekspor, substitusi impor, dan mendorong industri penghasil devisa menjadi fokus utama pemerintah.
Baca Juga: Kinerja Produksi Freeport Turun Tekan Perekonomian Maluku dan Papua
”Sejumlah infrastruktur publik utama sudah selesai dan sebagian lain dalam tahap penyelesaian. Hal ini memberikan fondasi kuat bagi peningkatan investasi swasta di berbagai sektor,” ujarnya di Jakarta baru-baru ini.
Dari sisi permintaan agregat, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai ditopang secara seimbang oleh empat mesin pertumbuhan yaitu konsumsi, investasi, ekspor, dan belanja pemerintah.
”Selama tiga tahun terakhir, inflasi Indonesia dapat dijaga pada kisaran 3,5%, lebih rendah dibanding rata-rata inflasi selama sepuluh tahun terakhir sebesar 5,6%,” kata Darmin.
Investasi secara bertahap mulai pulih kembali, ditopang oleh kesehatan sektor keuangan (perbankan dan pasar modal), pelaksanaan program pembangunan infrastruktur, serta peningkatan daya saing iklim usaha dan investasi Indonesia.
Perbaikan iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan berusaha (sistem OSS), diyakini akan semakin mendukung sentimen positif Investor. Sebab itu, pemerintah yakin beberapa sektor seperti transportasi dan energi akan diminati oleh investor.
Meski begitu, pemerintah tidak menutup mata terhadap perkembangan ekonomi global yang tengah mencari titik keseimbangan baru. Untuk itu, pemerintah akan mengambil langkah-langkah responsif menghadapi risiko berlanjutnya tekanan eksternal.
Dalam menghadapi risiko tersebut, arah kebijakan pemerintah saat ini akan lebih difokuskan pada strategi menjaga stabilitas dan penguatan fundamental ekonomi domestik.
Permintaan domestik juga diyakini akan tetap kuat dalam jangka pendek karena meningkatnya lapangan kerja di sektor formal dan diperluasnya program bantuan sosial pemerintah. Pemerintah juga serius menggarap UMKM sebagai basis ekonomi.
”Pasar dalam negeri harus diisi oleh UMKM karena hampir 99% kegiatan usaha di Indonesia adalah UMKM yang menyerap hampir 90% tenaga kerja domestik,” tuturnya.
Di sisi lain, pemerintah juga akan fokus membuka pasar ekspor baru di negara-negara non-traditional market seperti di Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Amerika Latin.