Harga Tiket Masih Mahal, Maskapai Asing Jadi Solusi?

Koran SINDO, Jurnalis
Sabtu 15 Juni 2019 11:24 WIB
Pesawat. Ilustrasi: Okezone
Share :

Pelaku industri seperti pariwisata dan perhotelan turut terkena imbasnya karena pengunjung menyusut. Begitu pula pengelola jasa bandara udara yang kehilangan potensi pemasukan akibat minimnya jumlah penumpang karena harga tiket yang mahal.

Baru-baru ini operator bandara PT Angkasa Pura (AP) I bahkan mengaku AP I telah menerima permohonan penundaan pembayaran atas jasa ke bandarudaraan dari Lion Air Group. Surat permohonan tersebut dikirim oleh grup maskapai berlogo Singa itu pada awal Februari lalu.

“Permohonan Lion Air itu sudah kita koordinasikan sehingga penangguhan pembayaran mereka kepada kami sudah mulai diselesaikan. Terkait ke depannya, mereka tetap melaksanakan kewajiban berdasarkan tenggat waktu yang disepakati,” ujar Corporate Secretary AP I Handy Heryudhitiawan.

Handy menjelaskan, kondisi maskapai di Tanah Air sedang menurun. Di sisi lain manajemen AP I juga siap berkoordinasi mencari solusi bersama. Namun, kata dia, perlu disampaikan bahwa sesungguhnya biaya operasional bandara terhadap operasi pesawat hanya sekitar 1,5% dari total biaya.

Baca Juga: Harga Tiket Pesawat 'Gila-gilaan', Penumpang di Daerah Ini Anjlok

“Tapi kalau ada kondisi sulit, ya, tentu komunikasi selalu kita buka terhadap semua maskapai,” ujar nya. Corporate Communication Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro mengatakan, Lion Air Group telah menyampaikan permohonan tersebut melalui surat resmi kepada pengelola bandar udara di bawah manajemen AP I.

“Kewajiban pembayaran Lion Air Group yang diminta itu adalah untuk bulan Januari, Februari, dan Maret 2019,” ujarnya. Dia menambahkan, Lion Air Group bersama pengelola bandara juga sudah melakukan pertemuan resmi dan menyepakatinya secara tertulis.

“Selanjutnya kewajiban pembayaran untuk bulan April di lakukan secara normal atau tidak ada penundaan,” kata Danang. Kemenhub dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengakui terdapat beberapa maskapai Indonesia mengalami kerugian keuangan.

Menurut Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti, saat ini maskapai yang beroperasi di Indonesia banyak tertimpa kerugian. Dia mencontohkan, maskapai AirAsia yang mengalami kerugian total mencapai Rp1 triliun.

“Dari laporan keuangan terakhir 2018 banyak yang rugi. Malah tidak ada yang untung. Air Asia hampir Rp1 triliun kalau tidak salah kerugiannya,” ujar Polana. Dia menambahkan, Kemenhub akan mengevaluasi masalah-masalah apa saja yang tengah dihadapi maskapai lokal.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya