RI Ekspor Bawang Merah dan Jahe ke Thailand hingga Bangladesh

Koran SINDO, Jurnalis
Rabu 17 Juli 2019 08:57 WIB
Ilustrasi: Foto Jahe
Share :

JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) kembali melepas ekspor bawang merah ke Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand sebanyak 1.000 ton serta ekspor jahe gajah ke Bangladesh sebanyak 500 ton di Surabaya.

”Sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, sejak 2015 agar fokus meningkatkan produksi di daerah sentra dan memperluas kawasan pertanian, khususnya di luar Pulau Jawa dan wilayah perbatasan.

Baca Juga: Neraca Dagang Surplus, RI Bisa Perang Dagang dengan Amerika?

Ekspor dan investasi harus didorong agar pertumbuhan ekonomi semakin kuat dan masyarakat semakin sejahtera,” ujar Dirjen Hortikultura Suwandi pada pelepasan ekspor bawang merah dan jahe di Surabaya dalam rilisnya, kemarin.

Suwandi menyebutkan, melansir data BPS, sejak 2016 Indonesia menutup total kran impor bawang merah dan cabai segar. Pada 2014 masih impor bawang merah 74.903 ton dan selanjutnya 2015 impor menurun drastis menjadi 17.428 ton.

Baca Juga: Impor China dari AS Turun 31% Imbas Perang Tarif

Namun pada 2017, Indonesia bisa mengekspor bawang merah ke beberapa negara tetangga yang total mencapai 7.750 ton. Angka ini naik 93,5% dibandingkan pada 2016 yang ada di angka 736 ton.

”Dan capaian produksi bawang merah nasional tahun 2018 mencapai 1,5 juta ton atau naik 2.04% dari tahun 2017 yang hanya 1,47 juta ton,” katanya.

Kemudian ekspor jahe pada Januari-Mei 2018 sebanyak 1.400 ton dan pada Januari-Mei 2019 menjadi 1.543 ton atau naik 10,2%. Sementara kinerja ekspor sayuran, yakni pada periode Januari-Mei 2018 hanya 24.997 ton, namun periode Januari-Mei 2019 naik 33,3% atau menjadi 33.331 ton.

Perwakilan dari PT Sian Liep Bumi Persada dan CV Bawang Mas 99 selaku eksportir, Aman Buana Putra mengatakan, pihaknya mengekspor 1.000 ton bawang merah ke Singapura, Filipina, Malaysia, dan Thailand.

”Bawang merah ini dihasilkan petani dari Probolinggo dan Bima, Nusa Tenggara Barat. Jahe pun dihasilkan petani di Ponorogo dan Probolinggo,” kata pria yang akrab disapa Aman ini.

Jahe termasuk komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi sebab memiliki banyak manfaat. Mulai dari sebagai bahan baku pembuatan minuman penghangat, bumbu dapur, penambah rasa atau penyedap makanan, hingga bahan baku herbal. Khusus jahe, kata Aman, luas lahan yang ditanami jahe selalu menunjukkan peningkatan seiring minat para petani semakin tinggi karena lebih menguntungkan.

Sebagian besar budi daya jahe ditanam dengan sistem tumpang sari. Peluang untuk ekspor masih terbuka luas, permintaan jahe saat ini terutama berdatangan dari sejumlah negara di antaranya China, Bangladesh, Pakistan, Belanda, dan Brunei Darussalam.

”Pembeli luar negeri lebih tertarik jahe dari Indonesia bila dibandingkan jahe dari Vietnam dan Thailand. Ini disebabkan kandungan minyak asiri, pati, dan serat jahe Indonesia lebih baik,” kata Aman.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya