Kemudian Subsistem Cawang-Bekasi melalui Gardu Induk PLN CSW menjadi cadangan pertama untuk pasokan listrik MRT. Cadangan kedua yakni pasokan listrik dari PLTD Senayan.
Dengan pengamanan berlapis ini, Haryanto memastikan tak ada lagi MRT Jakarta mengalami mati listrik. Sebab jika sumber utama dan cadangan pertama mati, maka ada sumber listrik dari PLTD Senayan.
"Secara teoritis probabilitas kemungkinan 6 mesin PLTD mengalami kerusakan itu sangat kecil. Dalam kondisi emergency (blackout) ini punya kemampuan maksimal 8-10 jam. Tentunya kalau ada mati listrik, diharapkan bisa cepat terselesaikan," jelasnya.
Menurutnya, alasan menggunakan PLTD sebagai pembangkit cadangan MRT Jakarta, yakni meski diesel akan lebih cepat beroperasi dan cepat sinkron (masuk system) dibandingkan mesin lainnya.
"Jadi ini pembangkit yang fast respons, proses start-nya sangat cepat. Sehingga normalisasi di perlukan dalam orde menit bukan lagi jam," kata dia.
(Feby Novalius)