JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini kondisi fundamental perekonomian Indonesia akan tetap terjaga hingga akhir 2019. Lantaran sejumlah kebijakan telah dikeluarkan Bank Sentral untuk menjaga stabilitas dalam negeri.
Di antaranya, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 100 basis point (bps) selama empat bulan berturut-turut sejak Juli-Oktober 2019 menjadi di level 5%. Pelonggaran likuiditas juga diberikan dengan menurunkan giro wajib minimum (GWM) sebesar 50 bps pada Juni 2019.
Baca juga: Buat Reformasi Ekonomi, Peringkat Kredit Yunani Membaik ke BB-
"Sejak tahun ini, semua instrumen kami keluarkan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Perry dalam acara CEO Networking 2019 di Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (31/10/2019).
Dia menyatakan, hingga akhir tahun inflasi diproyeksi akan terkendali di 3,3%. Masih terjaga dari sasaran pemerintah yang sebesar 3,5% dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019.
"Inflasi sampai akhir tahun 3,3%. Tahun depan 3%, rendah dan stabil sehingga mendorong daya beli," kata dia.
Kemudian, nilai tukar Rupiah juga diperkirakan akan stabil di level Rp14.000 per USD hingga akhir tahun. "Bahkan tadi pagi sempat di bawah Rp14.000 per USD," imbuhnya.
Tak hanya itu, defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD) sepanjang tahun 2019 diperkirakan berada di kisaran 2,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Di sisi lain, cadangan devisa juga dinilai akan tetap terjaga, tercermin hingga akhir September 2019 tercatat sebesar USD124,3 miliar.