JAKARTA - Pemerintah dalam memberantas kemacetan mendapatkan sorotan dari berbagai pihak. Bahkan, sorotan pun tak lepas dari Mantan Menteri PPN/ kepala Bappenas Andrinof Chaniago.
Pasalnya, Dia mengungkapkan bahwa ada 9 penyebab kemacetan secara garis besar. Ini Andrinof sampaikan setelah pemerintah terus gagal dalam memberantas kemacetan di Jakarta dan Batam yang notabene ingin dijadikan seperti Singapura.
Baca juga: Bandung Juara Macet, Ridwan Kamil Akan Berlakukan Ganjil Genap?
"Kemacetan di kota besar itu masalahnya ada 9. Yaitu moda transportasi harus transportasi massal tapi bukan angkot, kelakuan sopir angkutan umum yang berhenti pinggir jalan jadi macet, kebutuhan jembatan penyeberangan atau underpass tapi gak disediakan," ungkap Andrinof di Hotel Redtop, Jakarta, Kamis (14/11/2019).
"Faktor perumahan kalau mau sistem transportasi biayanya rendah ya rumah harus didorong ke vertikal, kalau landed house orang bakal beli motor, tata ruang kalau kita tidak didesain dengan baik fungsi-fungsinya maka sistem transportasi kacau," tambahnya.
Baca juga: Atasi Kemacetan Puncak Bogor, Kemenhub Buka Jalur Baru dari Jonggol-Citeurep
Tidak hanya itu, Andrinof juga mengatakan kalau pertumbuhan penduduk turut andil dalam kemacetan yang terjadi. Dalam kesempatan kali ini, Dia mengatakan kalau pertumbuhan penduduk yang terjadi di Bodetabek tumbuh 5% sehingga memancing kemacetan.
"Angka pertumbuhan penduduk Bodetabek ini rata-rata 5%, ini salah satu penyebab kemacetan juga. Itu artinya, kita kejar-kejaran dengan penambahan supply publik seperti air. Kita harus menyuplai layanan publik, mengurus urusan sampah, transportasi, kekumuhan," keluhnya.
Baca juga: Ganjil Genap 15 Jam, Dirjen Perhubungan Darat: Masih dalam Pembahasan
Dia harap, pemerintah bisa melakukan perencanaan yang matang, terutama dalam pemindahan ibukota baru. Nantinya, diharapkan tidak akan ada kemacetan di sana, seperti kota-kota modern lainnya seperti di Hong Kong, Taipei, hingga Tokyo.
"Yang penting jangan biarkan angkutan kecil tumbuh liar. Masalah publik memang kompleks. Makanya perencanaannya harus jauh-jauh hari biar lengkap," tandas Andrinof.
(Fakhri Rezy)