Puisi Susi Duyung yang Berkorelasi dengan Lukisan Romo Sindhu

Adhyasta Dirgantara, Jurnalis
Kamis 21 November 2019 14:24 WIB
Mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti. (Foto: Okezone.com/Instagram Susi)
Share :

Jelita wajahnya menyimpan indahnya senja, segar buah dadanya bermandikan cahaya merah.

"Siapa engkau sesungguhnya?" tanya perempuan petani itu.

"Aku perempuan seperti kamu. Aku bukan putri duyung. Seperti kamu, aku juga berasal dari gunung. Bagiku pula, tiada bedanya gunung dan lautan, karena keduanya sama-sama mengandung kehidupan. Gunung adalah asal dan lautan adalah tujuan kehidupan. Karena itu di lautan, sapi, lembu, babi, kuda, angsa, bebek, dan ayam bisa berubah menjadi ikan-ikan. Seperti kamu, aku juga bersusahpayah mencari makan, karena itu harus kuusir maling-maling dan jahanam-jahanam yang mencuri kehidupan dari lautan. Aku berbadan duyung, karena nafsuku untuk menenggelamkan dan memusnahkan mereka menggelora bagaikan ombak bergulung-gulung."

Ombak pun datang bergulung-gulung, tiba-tiba dari badan wanita berbadan duyung itu mengepaklah sepasang sayap, dan ia pun melesat terbang tinggi di angkasa.

Dari balik awan, ia menembakkan senjatanya, dan hancur dan tenggelamlah kapal-kapal para maling dan jahanam yang mau merampok kehidupan di lautan.

Seiring dengan kemusnahan mereka, berdatanglah mengalir bagaikan air bah ikan-ikan berupa-rupa warnanya: ikan sapi, ikan lembu, ikan babi, ikan kuda, ikan bebek, ikan ayam, dan ikan angsa ke dalam sumur-sumur yang digali oleh perempuan petani di tepi pantai, di mana orang-orang bisa menyanyikan lagi: Jaya Giri Jaya Bahari!

Itulah kehidupan yang telah melegenda di saat gunung-gunung kering dari rerumputannya, dan lautan miskin dari ikan-ikannya.

Dan legenda itu dikenal dengan nama "Susi Duyung".

(Feby Novalius)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya