JAKARTA - Pukulan besar terhadap industri pariwisata akibat virus korona berpotensi menjadi hambatan besar bagi ekonomi global. Industri ini bertanggung jawab atas 319 pekerjaan dengan pendapatan USD5,7 triliun.
Presiden ekonomi pariwisata sekaligus pemimpin perusahaan riset ekonomi Adam Sacks mengatakan hal serupa. Dirinya berpendapat industri pariwisata adalah yang paling besar bila dibandingkan dengan industri lain di seluruh dunia.
Baca Juga: Daftar Proyek Infrastruktur di Labuan Bajo Rp1,31 Triliun
"Sangat penting. Jika anda mengukur sepenuhnya dampak dari pariwisata, itu lebih besar dari industri lain di seluruh dunia. Tidak ada industri lain yang bisa mengatakan mendukung 1 dari 10 pekerjaan," ungkap Sacks, seperti dilansir dari CNN, Senin (2/3/2020).
Hal ini dikarenakan industri pariwisata memiliki cabang yang beragam. Mulai dari maskapai penerbangan, hotel, restoran, dan teknologi.
"Ini sebagian karena ini adalah industri yang sangat beragam. Ini mencakup banyak hal yang tidak anda pikirkan. Selain maskapai dan hotel, itu bagian dari ritel, bagian dari restoran, bagian dari teknologi," jelas Sacks.
Baca Juga: Pariwisata RI Terdampak Virus Korona, Pengusaha Kehilangan Keuntungan 30%
Minggu ini, United Airlines mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengalami penurunan total permintaan dari China sekitar 75% dalam permintaan jangka pendek di sisa rute trans-pasifik. Warga Tiongkok adalah turis yang paling sering berkelana secara global, dengan 180 juta pemegang paspor.
Beberapa konferensi besar pun terpaksa dibatalkan karena cemas virus korona akan menyebar dalam acara tersebut. Konferensi tersebut antara lain Mobile World Congress di Barcelona, acara terkemuka untuk industri ponsel, Geneva Motor Show, Facebook (FB) F8 conference, dan ironisnya, ITB Berlin, pameran dagang terkemuka.
Amazon pun melarang perjalanan bisnis yang tidak penting bagi karyawannya. Menurut survei terhadap 400 bisnis oleh Global Business Travel Association, hampir setengah dari bisnis telah membatalkan atau menunda pertemuan dan perjalanannya. Alhasil mereka beresiko kehilangan 37% perjalanan bisnisnya pada periode itu.
"Ini secara fundamental mempengaruhi cara banyak perusahaan sekarang melakukan bisnis. Jika ini berubah menjadi pandemi global, industri mungkin akan kehilangan miliaran dolar - dampak yang akan memiliki konsekuensi negatif bagi seluruh ekonomi global." ujar Direktur eksekutif kelompok perdagangan Scott Solombrino.
Namun sejauh ini, belum ada pemutusan hubungan kerja yang terjadi dalam industri pariwisata. Tetapi, jutaan pekerja berpotensi kehilangan pekerjaannya atau mengurangi jam kerjanya jika permintaan terhadap perjalanan terus mengalami tekanan.
"Pekerja berpenghasilan rendah akan terkena dampak lebih keras. Mereka harus segera mengurangi pengeluaran mereka. Itu memiliki efek berlipat ganda yang signifikan di seluruh dunia." kata profesor bisnis Sung Won Sohn, di Loyola Marymount University.
Sohn juga berpendapat penurunan aktivitas ekonomi global bisa mencapai angka USD1 triliun. "Saya tidak berpikir yang terburuk ada di belakang kita dalam hal dampak ekonomi. Yang terburuk belum datang," tambah Sohn.
Sementara itu penurunan tajam juga terjadi di pasar keuangan. Tidak hanya itu, gangguan rantai pasokan global untuk produsen dan pengecer juga telah terjadi dan penurunan harga energi dan produksi karena berkurangnya konsumsi. Pukulan terhadap industri pariwisata pun dapat membawa ancaman kepada resesi global.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)