JAKARTA - Pasar saham dunia selama sepekan diwarnai ketidakstabilan dan guncangan. Hal ini diperparah dengan bursa Wall Street yang anjlok hampir 10%.
Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan fluktuasi mewarnai kinerja bursa saham dunia selama sepekan ini. Awal pekan diramaikan dengan kejatuhan harga saham namun di akhir pekan ditutup dengan kenaikan.
Baca Juga: Kapitalisasi Pasar BEI Lenyap Rp678 Triliun Jadi Rp5.678 Triliun
"Minggu ini di warnai fluktuasi bursa saham dunia, di mana di awal pekan diwarnai kejatuhan harga-harga saham dan baru di ujung pekan terjadi kenaikan," ujar Hans Kwee dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Minggu (15/3/2020).
Penurunan bursa Wall Street yang hampir menyentuh angka 10% menjadi kemerosotan terburuknya sejak Black Monday tahun 1987. Wall Street sempat dihentikan selama 15 menit karena pencapaian ambang batas sekering yang dirancang untuk membatasi jatuhnya harga-harga saham.
"Perdagangan saham di bursa Wall Street sempat mengalami penurunan hampir 10% dan menjadi yang terburuk sejak "Black Monday" 1987. Bursa Wall Street pada saat penurunan tersebut sempat dihentikan sementara setelah dibuka 15 menit pertama karena mencapai ambang batas "circuit-braker" yang digunakan bursa AS," jelas Hans Kwee.
Baca Juga: Asing Cetak Aksi Jual Bersih Rp575,8 Miliar di Pasar Saham
Pasar saham dunia kini menanti kedatangan berbagai stimulus. Baik dalam sektor fiskal maupun moneter. Hal ini dengan tujuan untuk menangkal dampak negatif virus korona terhadap ekonomi dan bisnis yang pada akhirnya akan mempengaruhi harga saham.
"Pasar saham dunia menanti berbagai stimulus baik fiskal maupun moneter untuk membendung dampak negatif virus korona terhadap ekonomi dan bisnis yang pada akhirnya mempengaruhi harga saham," pungkas Hans Kwee.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)