NEW YORK - Wall Street ditutup anjlok pada perdagangan Selasa (31/3/2020) waktu setempat. Di mana, Dow Jones catat penurunan kuartalan terbesar sejak 1987 dan S&P 500 juga catat penurunan kuartalan terbesar.
Di pergerakan tercepat skema bearish, S&P 500 dan Dow Jones mengakhiri kuartal pertama lebih dari 20% di bawah akhir 2019. Ini membuktikan virus Corona berdampak ke ekonomi cukup dalam.
Baca juga: Wall Street Menguat di Tengah Melonjaknya Saham-Saham Kesehatan
Melansir Reuters, Jakarta, Rabu (1/4/2020), Dow Jones Industrial Average turun 410,32 poin, atau 1,84%, menjadi 21.917,16, sedangkan S&P 500 kehilangan 42,06 poin, atau 1,60%, menjadi 2.584,59. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 74,05 poin, atau 0,95% menjadi 7.700,10.
Nasdaq yang padat teknologi mencatat penurunan kuartalan terbesar sejak akhir 2018.
Putaran stimulus fiskal dan moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya telah membantu pasar ekuitas naik lebih tinggi minggu lalu setelah perubahan besar yang menyebabkan S&P 500 naik 9% dan merosot 12% dalam dua sesi berturut-turut.
Baca juga: Wall Street Dibuka Anjlok Imbas Kekhawatiran Kerusakan Perekonomian
Tetapi ini tidak cukup untuk memberikan kepercayaan kepada investor.
"Setelah pemukulan yang kami lakukan pada bulan lalu, orang tidak mau membuat taruhan besar ke segala arah sekarang, terutama karena kami akan memiliki lebih banyak wawasan dari komentar dalam laporan pendapatan awal yang dimulai minggu depan," kata wakil kepala pejabat investasi di Abbot Downing, Carol Schleif.
Banyak investor juga kemungkinan berhati-hati menjelang rilis data klaim pengangguran pada hari Kamis dan laporan gaji non-pertanian Maret, Jumat, kata Steven DeSanctis, ahli strategi di Jefferies.
"Kami menuju akhir minggu yang akan memiliki lebih banyak kembang api," katanya.
Sektor Utilitas (SPLRCU) dan sektor real estat (SPLRCR) berada di antara penurunan terbesar pada hari Selasa. Dengen masing-masing turun 4% dan 3%.
Sektor energi (SPNY) naik hampir 1,6%. Hal ini didorong oleh rebound harga minyak meskipun tolok ukur minyak mentah mengakhiri kuartal volatil dengan kerugian terbesar mereka dalam sejarah.
(Fakhri Rezy)