NEW YORK - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap beberapa sekeranjang mata uang utama lainnya pada perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu pagi WIB).
Penguatan dolar AS ini ditopang setelah data kehilangan pekerjaan lebih sedikit dibandingkan perkiraan sebelumnya imbas pandemi virus corona atau Covid-19.
Melansir Reuters, Jakarta, Sabtu (9/5/2020), dolar AS naik 0,4% terhadap yen menjadi 106,71 yen, sementara euro datar terhadap dolar pada USD1,0836. Hal ini membuat indeks dolar menguat menjadi 99,77.
Baca Juga: Wall Street Melesat Abaikan Data Pengangguran
Greenback mencatat kenaikan mingguan terbesarnya terhadap euro dalam lebih dari sebulan, meskipun itu lebih terkait dengan masalah mata uang tunggal Eropa mengenai pembelian aset Bank Sentral Eropa.
Dolar juga mencatat kinerja mingguan terbaiknya terhadap franc Swiss dalam lebih dari sebulan juga.
Dalam laporan Departemen Tenaga Kerja pada Jumat, 20,5 juta orang kehilangan pekerjaan selama April. Angka ini lebih rendah dari prediksi 22 juta orang. Dengan demikian, tingkat pengangguran menjadi 14,7%, lebih rendah dari perkiraan pasar 16%.
"Dampak ekonomi lebih parah, apakah itu benar-benar membuat banyak perbedaan antara 20,5 juta pekerjaan yang hilang dan 22 juta?” kata kepala strategi pasar di Bannockburn Global Forex di New York Marc Chandler.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 5% Jadi USD30/Barel
"Itu tidak benar-benar mengubah apa pun. Pasar telah mengabaikannya,”tambahnya.
Di sisi lain, tingkat selera risiko secara luas lebih tinggi pada hari itu, dengan saham AS dan hasil obligasi lebih tinggi.
“Tanpa vaksin, sulit membayangkan bahwa sebagian besar ekonomi (liburan, keramahtamahan dan ritel) akan memulihkan sebagian besar pekerjaan dalam waktu dekat. Lonjakan upah tidak mendapat perhatian karena kehilangan pekerjaan yang meluas terutama merugikan pekerja yang berpenghasilan rendah, ”tambahnya.
(Dani Jumadil Akhir)