JAKARTA – Berbisnis pertanian juga harus mengikuti perkembangan zaman jika produk panennya ingin dinikmati oleh masyarakat. Salah satu kunci sukses untuk mengembangkannya adalah memasarkan hasil tani ke e-commerce.
Co-Founder TaniHub Group Michael Jovan Sugianto mengatakan, awalnya TaniHub dalam menjalankan bisnis seperti pada biasanya. Namun, seiring berjalannya waktu, dia memutar otak untuk menjual hasil pertanian ke market place.
Baca Juga: Janjikan Keuntungan Berlipat, Jangan Ragu untuk Bisnis Pertanian
“Namun, kami menemukan banyak kendala dengan model bisnis tersebut, karena tidak cocok dengan kondisi market-nya. Para petani lokal masih banyak yang kesulitan untuk mengelola pesanan secara langsung dengan customer,” kata Michael kepada Okezone, Selasa (7/7/2020).
Di sisi lain, kata dia, terdapat kendala di sisi tonase. Mereka yang sudah terbiasa mengirim produknya dalam bentuk jumlah besar dengan berat sekian ton, sehingga kesulitan ketika menghadapi pelanggan yang memesan hanya beberapa kilogram.
“Selain itu, model bisnis marketplace tidak menolong petani untuk memperbaiki kualitas dan spesifikasi produk sesuai yang dibutuhkan pasar, karena petani lokal telah terbiasa dengan cara bertani secara tradisional dan konvensional,” ujarnya.
Baca Juga: Butuh Modal Bangun Startup? Ini 6 Sumber Pendanaannya
Meski begitu, dia tetap meyakini bahwa bisnis jual beli hasil pertanian melalui daring mempunyai prospek yang positif. Akhirnya, pada 2016, diputuskan untuk pindah ke model bisnis e-commerce.
“Di mana kami sendiri yang mengelola supply chain dari hulu ke hilir, termasuk mencari pasokan komoditas dari petani dan mendistribusikannya kepada konsumen. Lalu, pada November 2016, TaniHub akhirnya melakukan transaksi produk pertama kalinya dengan nilai Rp156.000 melalui aplikasi,” kata dia.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)