JAKARTA - Pandemi virus corona atau Covid-19 telah menjangkiti pertumbuhan ekonomi global. Banyak negara yang mengalami resesi karena dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonominya minus seperti Singapura.
Sementara, pada pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2020 diprediksi minus hingga 4,3%. Angka ini direvisi Menteri Keuangan Sri Mulyani dari sebelumnya minus 3,8%. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun sudah menyoroti agar ekonomi Indonesia tidak mengalami resesi.
Baca Juga: Bos BI Beberkan 'Angin Segar' Bagi Ekonomi Indonesia di Kuartal II-2020
Berikut fakta-fakta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi minus 4,3% seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Sabtu (18/7/2020)
1. Ekonomi RI Diprediksi Minus 4,3% di Kuartal II-2020
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali merevisi proyeksi angka pertumbuhan ekonomi nasional. Kali ini, ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 menjadi minus 4,3% di kuartal II-2020.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, angka ini lebih dalam dari proyeksi awal yang sebesar -3,8%. Adapun pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun ini berada di antara minus 3,5% sampai minus 5,1% dengan titik terdalam yang paling baru di level -4,3%.
"Titik poinnya kita ada di minus 4,3% jadi lebih dalam dari yang kita sampaikan minus 3,8%," kata Sri Mulyani di gedung DPR, Jakarta, Rabu 15 Juli 2020.
Baca Juga: Direvisi, Sri Mulyani: Ekonomi RI Diprediksi Minus 4,3% di Kuartal II-2020
2. Penurunan Tajam di Kuartal II-2020
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, penurunan ekonomi nasional yang lebih tajam ini dikarenakan beberapa sektor industri kinerjanya terkontraksi cukup dalam. Adapun sektor industri tersebut mulai dari perdagangan, pertambangan, manufaktur, hingga transportasi.
"Transportasi itu walaupun sudah ada relaksasi tapi tidak pulih karena orang tidak melakukan traveling, walau terjadi tapi masih kecil sekali, pertambangan berkontribusi negatif growth cukup dalam di kuartal II," katanya.