JAKARTA - Menteri Keuangam Sri Mulyani menilai alangkah baiknya bila ada pihak yang mengkritisi soal utang pemerintah. Dirinya pun siap menjelaskan dan berdebat dengan narasi yang baik dan jangan menggunakan nada-nada kebencian dan kasar.
"Karena kalau bicara policy utang, bisa debat, enggak usah benci-bencian. Apalagi sampai bilang-bilang bahasa yang kasar, menurut saya enggak perlu," kata wanita yang karib disapa Ani dalam Instagram pribadinya yang dikutip Okezone, Senin (20/7/2020).
Dia menyebut, seluruh pihak yang tak setuju dengan kebijakanya agar melihat fungsi utang itu untuk pembiayaan apa saja.
Baca Juga: Dari Utang, Ichsanuddin Noorsy: Bank Dunia Perlakukan Kita Seenak-enaknya
"Jadi mari melihat semua aspek. Jadi enggak ada benci, apalagi ngomongnya kasar-kasar. Menurut saya itu enggak bagus. Itu menunjukkan adab sopan santun dan keimanan agama Anda," ujarnya.
Dia menjelaskan, pihaknya memutuskan untuk melalukan utang karena untuk menambah anggaran belanja negara yang digunakan untuk pendidikan, kesehatan dan pembangunan infrastruktur.
"Kalau utangnya membuat infrastruktur kita menjadi baik, ya tidak ada masalah. kalau enggak utang berarti kita menunda semua kebutuhan infrastruktur, untuk masalah pendidikan dan kesehatan. Jadi anak-anak menjadi kurang gizi, tidak sekolah dan miskin," ujarnya.
Baca Juga: Biaya Penanganan Covid-19 Bikin Utang Pemerintah Melonjak
Sebagai informasi, utang luar negeri (ULN) Indonesia meningkat pada Mei 2020. Tercatat ULN sebesar USD404,7 miliar atau naik 4,8% dibandingkan April 2020 sebesar USD400,2 miliar.
Bank Indonesia mencatat tumbuhnya utang dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto ULN, baik ULN pemerintah maupun swasta. Selain itu, penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS juga berkontribusi pada peningkatan ULN berdenominasi Rupiah.
(Feby Novalius)