JAKARTA - Presiden Joko Widodo membandingkan perjuangan negara-negara di dunia dalam melawan virus Corona atau Covid-19. Pasalnya, hal tersebut terlihat dari penggunaan stimulus fiskal tiap negara.
Dirinya mengatakan, berawal dari masalah kesehatan, dampak pandemi Covid-19 telah meluas ke masalah sosial, ekonomi, bahkan ke sektor keuangan. Penanganan yang luar biasa telah dilakukan oleh banyak negara, terutama melalui stimulus fiskal.
Baca juga: Jokowi: 25 Tahun Lagi Indonesia Jadi Negara Maju!
"Jerman mengalokasikan stimulus fiskal sebesar 24,8% PDB-nya, namun pertumbuhannya terkontraksi minus 11,7% di kuartal kedua 2020. Amerika Serikat mengalokasikan13,6% PDB, namun pertumbuhan ekonominya minus9,5%. China mengalokasikan stimulus 6,2% PDB,dan telah kembali tumbuh positif 3,2% di kuartal kedua, namun tumbuh minus 6,8% di kuartal sebelumnya," ujarnya dalam pidato Presiden tentang nota keuangan 2021, Jakarta, Jumat (14/8/2020).
Sementara itu, lanjutnya, Indonesia pun melakukan langkah-langkah yang luar biasa. Salah satunya dengan mengeluarkan UU nomor 2 tahun 2020.
Baca juga: Ekonomi Indonesia Diprediksi Baru Pulih pada 2022-2023
"Antara lain memberirelaksasi defisit APBN dapat diperlebar di atas 3%selama tiga tahun. Tahun 2020, APBN telah diubahdengan defisit sebesar 5,07% PDB dan kemudian meningkat lagi menjadi 6,34% PDB," ujarnya.
Menurutnya, pelebaran defisit dilakukan mengingat kebutuhan belanja negara untuk penanganan kesehatan dan perekonomian meningkat. "Pada saat (bersamaan) pendapatan negara mengalami penurunan," ujarnya.
(Fakhri Rezy)