BACA JUGA : Subsidi Gaji Rp600 Ribu Pemerintah Ditunda, Menaker Janji Empat Hari Cair
Sedangkan Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) masih kuat di posisi 42,3%. Rasio intermediasi (Financing to Deposit Ratio/FDR) mencapai 92%, Likuiditas Jangka Pendek dan Panjang (NSFR and LCR) di angka 190% dan 244%. Total aset tumbuh 10% menjadi Rp15,27 triliun, dan mencatatkan Laba bersih setelah pajak (NPAT) mencapai Rp 407 miliar.
Perseroan juga menegaskan bahwa mempelajari di masa pandemi ini segmen UMKM dan mikro tidak hanya membutuhkan bantuan yang hanya membuat survive dan meringankan beban hidup, namun juga untuk bangkit kembali, pulih seperti sedia kala.
“Mereka butuh kepercayaan diri yang tinggi dan tentunya pembiayaan baru. Karenanya, BTPN Syariah selain melakukan program pelonggaran, tentunya harus teliti untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga komunikasi yang intensif menjadi jalan terbaik untuk memahami mereka. Cara ini cukup efektif, meski dengan tetap menjalankan protokoler kesehatan yang ketat”, terang Arief. (*)
(Shifa Putri)