Luar Biasa, 5 Emiten Farmasi Ini Kalahkan IHSG dan Indeks Konsumer

Giri Hartomo, Jurnalis
Rabu 07 Oktober 2020 06:31 WIB
Saham (Shutterstock)
Share :

JAKARTA - Industri farmasi dan rumah sakit menghadapi tantangan yang cukup berat di era pandemi Covid-19 seperti ini. Masyarakat yang menunda kunjungan ke rumah sakit menekan penjualan obat-obatan dan pemasukan dari jasa layanan kesehatan.

Tercatat, data pertumbuhan PDB yang dirilis oleh BPS menunjukan bahwa pada Triwulan II 2020, sektor jasa kesehatan mengalami penurunan sebesar 4,15% dibandingkan kuartal sebelumnya.

 Baca juga: IHSG Punya Peluang Kembali ke Level 5.000

Pada masa pandemi, kunjungan ke institusi kesehatan, seperti klinik dan rumah sakit turun drastis. Dengan turunya kunjungan ke rumah sakit tentu akan berdampak pada penjualan dan akhirnya mempengaruhi keuntungan emiten rumah sakit.

Riset Lifepal, Jakarta, Rabu (7/10/2020), meskipun menurut data BPS tersebut terjadi penurunan pertumbuhan pada sektor jasa kesehatan, nyatanya ada emiten-emiten farmasi dan rumah sakit yang pergerakan harga sahamnya masih di atas performa Indeks Konsumer dan Indeks Perdagangan dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

 Baca juga: Emiten Petrokimia Sulit Stabil, Tergantung Konstruktor

Sebagai informasi, emiten-emiten saham farmasi berada di lingkup Indeks Konsumer, sedangkan emiten-emiten saham rumah sakit tergolong pada Indeks Perdagangan.

Data kinerja di atas menunjukan ada lima emiten Farmasi yang kinerjanya sanggup mengalahkan kinerja Indeks Konsumer, yaitu:

1. PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

Darya-Varia merupakan perusahaan yang berbasis di Indonesia dan bergerak dalam industri farmasi. Kegiatan bisnis utama Perusahaan terbagi ke dalam tiga segmen bisnis: obat resep, obat bebas dan jasa ekspor serta jasa maklon.

2. PT Kimia Farma Tbk (KAEF)

Perusahaan industri farmasi pertama di Indonesia yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817. Nama perusahaan ini pada awalnya adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co.

Berdasarkan kebijaksanaan nasionalisasi atas eks perusahaan Belanda di masa awal kemerdekaan, pada tahun 1958, Pemerintah Republik Indonesia melakukan peleburan sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF (Perusahaan Negara Farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1971, bentuk badan hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga nama perusahaan berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero).

3. PT Pyridam Farma Tbk (PYFA)

PT Pyridam Farma Tbk merupakan perusahaan multinasional yang memproduksi farmasi dan berkantor pusat di Jakarta. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1972. Perusahaan ini memiliki lebih dari 100 produk dalam bentuk tablet, kaplet, kapsul, sirup krim, dan salep.

Selain itu, Pyridam juga memproduksi produk resep seperti penisilin dan non-penisilin antibiotik, anti-TBC, dan obat penghilang rasa sakit, serta produk non-resep produk vitamin, pencegah flu dan batuk, dan antipiretik.

4. PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF)

PT Indofarma Tbk merupakan perusahaan multinasional yang memproduksi farmasi dan berpusat di Jakarta. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1918 ini menghasilkan berbagai macam produk farmasi.

5. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO)

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk adalah perusahaan jamu tradisional dan farmasi dengan menggunakan mesin-mesin mutakhir. Berawal pada tahun 1940 di Yogyakarta, dan dikelola oleh Ny. Rahkmat Sulistio. Sido Muncul yang semula berupa industri rumahan ini secara perlahan berkembang menjadi perusahaan besar dan terkenal seperti sekarang ini. Pada tahun 1951, Sido Muncul mulai berdiri.

(Fakhri Rezy)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya