JAKARTA - Amerika Serikat akan menggelar pemilihan presiden (Pilpres) pada November 2020 mendatang. Perhelatan pesta demokrasi itu diprediksi akan membuat bursa saham di Negeri Paman Sam tersebut anjlok amat dalam.
Analis dari Goldman Sachs Abby Joseph Cohen mengatakan situasi di pasar saham bisa terjadi kontraksi yang sangat tajam jelang pemilu nanti. Bahkan, penurunan itu bisa tak bisa diprediksi dari yang biasanya terjadi dalam ilmu ekonomi.
Menurut dia, situasi itu bergantung dari kebijakan yang diterbitkan oleh kongres dan Presiden Donald Trump jelang pemilu nanti.
"Karena apa yang kami kenali mungkin tidak tepat mencerminkan semua volatilitas tidak hanya di pasar, tetapi dalam ekonomi, dalam kebijakan, dan tentu saja dalam sentimen investor," kata Cohen seperti yang dilansir dari businessinsider, Jumat (9/10/2020).
Baca Juga: Daftar Rekomendasi Saham Berpotensi Cuan Hari Ini