Regulasi OJK di Pasar Modal Berhasil Redam Dampak Pandemi

Karina Asta Widara , Jurnalis
Rabu 16 Desember 2020 18:41 WIB
Foto : Dok Instagram OJK
Share :

JAKARTA - Belum tutup buku 2020, namun kinerja di pasar modal di tengah hantaman pandemi covid-19 berhasil tumbuh positif. Perkembangan tersebut tidak lepas dari peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang membuat regulasi secara tepat, sehingga mampu menjawab kebutuhan.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK Yunita Linda Sari mengatakan dalam rangka meminimalisasi dampak dari pandemi covid-19, kebijakan sektor pasar modal dikelompokan menjadi 3 bagian.

Pertama, mengenai bagaimana bisa me-manage volatilitas atau flutuktuasi yang sangat tajam di pasar secondary. "Jadi ada kelompok yang kita tunjuk untuk mengendalikan atau meminimalisasi dampak dari volatilitas di secondary market," katanya dalam acara IDX Channel bertema Update Kebijakan dan Pengawasan Sektor Pasar Modal, Rabu (16/12/2020).

Kedua, ada relaksasi bagi pelaku industri keuangan terutama terkait pasar modal.

Ketiga, relaksasi atau kemudahan bagi Industri Jasa Keuangan (IJK) atau Lembaga Jasa Keuangan (LJK) yang berkegiatan di pasar modal dalam melakukan filing (pengarsipan) kewajiban pelaporan atau perizinan.

Untuk kebijakan kolompok pertama, lanjutnya ada kebijakan auto rejection asimetris. Menurut Yunita, kebijakan yang paling signifikan adalah pemendekan jam perdagangan di bursa.

"Kemudian ada kebijakan buyback saham oleh emiten tanpa melalui RUPS," ungkap dia.

Selanjutnya kebijakan kedua, dalam hal ini perpanjangan keberlakuan laporan keuangan bagi emiten.

"Ini untuk yang melakukan corporate action atau hal hal lain. Jangka waktu penyampaian diperpanjang, lalu keberlakuannya, serta efektifnya juga diperpanjang," ucap Yunita.

Ketiga, kemudahan perizinan. Dalam hal ini ada beberapa kegiatan yang dipercepat atau beberapa inisiatif dipercepat pemberlakuannya. Misalnya, pelaporan atau penyampaian pelaporan disclosure, antara lain untuk emiten dan perusahaan publik.

Seperti diketahui, per 14 Desember IHSG sudah kembali ke posisi 6.000-an meski belum sebanding dengan kinerja akhir tahun 2019. Kala itu, padahal pada Maret, IHSG masih mengalami pertumbuhan negatif 4,5%.

Sementara reksadana, per 14 Desember sudah mengalami kenaikan Nilai Aktiva Bersih (NAB) sekitar 3,8%. Sedangkan jumlah produk reksadana mengalami kenaikan 1,5%.

CM

(Yaomi Suhayatmi)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya