Marvin Camangeg, Advisory DirectorGrant Thornton Indonesia mengatakan “Saham tidak jarang dianggap sebagai instrumen investasi yang mampumenghasilkan keuntungan yang relatif tinggi. Namun, sama seperti investasi pada umumnya, potensi keuntungan yang tinggi dari investasi saham juga tentu diikutidengan risiko yang tinggi, fakta ini yang seringkali kurang diperhatikan oleh investor pemula.”
Performa beberapa perusahaan yang sempat mengalami kenaikan harga saham hingga ratusan persen juga mendorong banyaknya investor newbie menjadi merasa FOMO (Fear of Missing Out) dimana mereka akhirnya bertindak impulsifhanya karena takut ketinggalan momentum untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.
Banyak akhirnya investor pemula yang salah kaprah dengan menginvestasikan uang untuk kebutuhan sehari-hari bahkan berutang dengan bunga besar, mereka yang tadinya berharap mendapat keuntungan cepat justru banyak yang berakhir dengan rugi besar.
Akan lebih baik apabila investor pemula belajar dan meningkatkan pemahaman terlebih dahulu sebelum berinvestasi saham. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti webinar dan workshop tentang pasar modal yang sering diselenggarakan oleh instansi berkaitan ataupun bergabung dengan komunitas pemain saham sehingga para investor pemula bisa langsung mendengarkan dan belajar dari orang –orang yang sudah berpengalaman dalam bermain saham.
“Pelajaran yang dapat dipetikdi siniadalahbahwa pasar sahamdapat di ibaratkan seperti rimba. Kita akan menemukanberbagai jenis hewan. Adahewanyang kuat secara alami karena ukurantubuhnya yang besar, namun ada juga ada hewan yang kuatsemata-mata karena mereka selalu bergerombol dalam jumlah besar. Selain itu sekarang teknologi juga telah mengubah aturanpermainan. Jadi sebelum berinvestasisaham, perlumemahami profil resikoperseorangan, tetap rasionaldan tidak bergantung pada intuisi saja waktupemilihan saham. Selalu mencari bantuan dari para penasihat investasiyang dapat membantu dan memberikan bimbingandalam keputusan berinvestasi.” tutup Marvin.
(Fakhri Rezy)