Gaya Hidup, Perubahan Iklim hingga Jejak Karbon Orang-Orang Terkaya Dunia

Tim Okezone, Jurnalis
Minggu 31 Oktober 2021 10:11 WIB
Perubahan Iklim hingga Jejak Karbon Orang Kaya Dunia (Foto: Reuters)
Share :

Pembicaraan tentang konsumsi pribadi dapat segera berkembang menjadi perdebatan usang mengenai apakah mengatasi perubahan iklim bergantung pada tindakan individu atau perubahan sistemik dari pemerintah dan perusahaan.

"Ini adalah dikotomi yang keliru," kata Akenji. "Gaya hidup tidak ada dalam ruang hampa, tapi dibentuk oleh konteks."

Gaya hidup boros karbon yang didambakan

Orang-orang menjalani kehidupan mereka dalam sistem politik dan ekonomi yang sebagian besar tidak berkelanjutan.

Namun, tanpa membahas gaya hidup orang-orang terkaya dan paling menghasilkan berpolusi di masyarakat, dan kekuatan yang mereka miliki, kita tidak akan mampu mengatasi perubahan iklim.

"Orang kaya menetapkan suatu standar pola konsumsi yang diinginkan semua orang. Di situlah efek toksiknya," kata Halina Szejnwald Brown, profesor emerita ilmu lingkungan dan kebijakan di Universitas Clark di AS.

Sebut saja penerbangan. "Begitu Anda terbang, Anda menjadi bagian dari elit global," kata Gössling. Lebih dari 90% orang tidak pernah terbang dan hanya 1% populasi dunia bertanggung jawab atas 50% emisi dari penerbangan.

Dari elit bisnis yang hobi keliling dunia hingga selebritas yang menjadikan melancong sebagai bagian dari personal brand, perilaku mereka telah membantu menjadikan gaya hidup boros karbon menjadi sesuatu yang didambakan banyak orang, kata Gössling.

Mobil SUV yang mengangkut presiden, pemimpin bisnis, dan selebritas - dan semakin banyak keluarga kelas menengah di kota-kota - juga sudah menjadi simbol status, terlepas dari dampak lingkungannya.

Mencakup 42% dari total penjualan mobil di dunia pada 2019, SUV adalah satu-satunya sektor yang mengalami kenaikan emisi pada tahun 2020. Peningkatan orang yang membeli SUV tahun lalu praktis membatalkan pengurangan emisi akibat mobil listrik.

Rumah yang lebih besar adalah hotspot konsumsi lainnya. "Pilihan perumahan menandakan prestise dan status sosial," tulis Kimberly Nicholas, ilmuwan di Universitas Lund, dan salah satu peneliti dalam studi terbaru tentang peran orang kaya dalam mendorong perubahan iklim.

Di Eropa, hampir 11% emisi dari perumahan berasal dari 1% orang-orang terkaya yang memiliki rumah besar - dan seringkali lebih dari satu.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi jejak karbon?

Bagaimanapun, dalam beberapa tahun terakhir, norma-norma sosial mulai bergeser.

Di Swedia, aktivisme Thunberg membantu menginspirasi gerakan flygskam ("malu terbang" dalam bahasa Swedia), sebuah konsep yang membuat orang mempertanyakan seberapa sering mereka terbang.

Gerakan ini dikaitkan dengan penurunan 4% dalam jumlah orang yang terbang dari bandara Swedia pada 2018 - penurunan yang jarang terjadi pada saat jumlah penumpang meningkat secara global.

Covid-19, yang secara dramatis membatasi perjalanan bisnis, membuktikan bahwa panggilan video dapat menggantikan pertemuan tatap muka.

Sebuah survei dari Bloomberg menemukan bahwa 84% bisnis berencana untuk mengurangi perjalanan kerja setelah pandemi.

Orang-orang juga mulai mempertimbangkan dampak dari pola makan mereka, yang mengarah pada kemunculan banyak perusahaan daging dan susu nabati.

"Mereka tidak muncul karena kebijakan pemerintah," kata Peter Newell, seorang profesor hubungan internasional di University of Sussex. "Itu hanya bisnis yang melihat, ke situlah pasar mulai bergeser."

Tetapi perubahan ini terlalu lamban untuk mengatasi keadaan darurat yang kita alami, kata Kenner: "Kita melewati titik kritis iklim dan banyak spesies akan punah." Masalahnya adalah tentang kecepatan, dan untuk itu tindakan pemerintah diperlukan, katanya.

Pajak bagi perilaku yang tidak berkelanjutan, seperti sering terbang dan konsumsi daging berlebihan, dapat membantu mendorong orang-orang ke perilaku rendah karbon lebih cepat, kata Newell, terutama jika ada kaitan langsung antara hukuman bagi perilaku penghasil polusi dan investasi yang menguntungkan banyak orang.

Misalnya, hasil dari pajak frequent flyer dapat diinvestasikan ke dalam sistem transportasi umum yang lebih murah atau bahkan gratis, dan uang dari "pajak rumah" dapat digunakan untuk menyekat rumah, sehingga mengurangi kebutuhan penghangat.

Namun masalahnya ialah apakah orang kaya dapat dengan mudah menyerap biaya ini dan meneruskan gaya hidup mereka.

Gagasan yang lebih radikal adalah jatah karbon pribadi (Personal Carbon Allowance, PCA), di mana setiap individu dialokasikan jatah karbon yang setara dan dapat diperjualbelikan.

Jika seseorang ingin mengeluarkan lebih banyak karbon, mereka harus membeli jatah orang lain yang tidak terpakai.

Versi PCA telah diuji coba di Irlandia, Prancis, dan California. Pada tahun 2018, pemerintah Inggris menganalisis kelayakannya tetapi menyimpulkan bahwa PCA akan terlalu mahal, sulit untuk dikelola, dan tidak mungkin diterima secara sosial.

Tetapi dalam konteks darurat iklim dan pandemi, yang sudah memaksa banyak orang untuk menerima pembatasan individu demi manfaat kolektif, itu mungkin merupakan kebijakan yang layak dipertimbangkan kembali, menurut analisis baru-baru ini.

PCA menarik pada satu level, kata Newell, "karena membuatnya sangat jelas apa hak kita per kapita." Namun, ia menambahkan, "ini adalah versi ekstrem dari pembagian tanggung jawab." Ini dapat dengan tidak adil merugikan orang-orang yang, misalnya, tinggal di daerah dengan sedikit pilihan transportasi umum.

Ide kebijakan lain yang semakin populer adalah "pembatasan pilihan", di mana pemerintah membatasi produk-produk boros karbon - seperti jet pribadi atau kapal pesiar besar - yang masuk ke pasar sejak awal. Diharapkan, pilihan-pilihan rendah karbon akan mengisi celah tersebut.

Pembatasan pilihan mungkin terdengar radikal tetapi itu bukan hal baru, kata Akenji.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya