"Di situ jadi tempat pertempuran bagaimana mengendalikan suatu krisis dan sebagai ekonom muda saya mendapat kesempatan untuk menangani krisis, dan itulah cara saya berbakti ke Indonesia," ungkapnya.
Hingga dirinya menjadi menteri seperti saat ini, menurutnya, kondisi perempuan dalam memimpin tidak sesederhana laki-laki. Perempuan dihadapkan pertanyaan dan dimintai keputusan yang lebih sulit ketimbang laki-laki.
"Perempuan kalau dibilang lebih abot (berat) karena di dalam titik hidupnya menghadapi pertanyaan yang tidak mudah sehingga dalam leadership dia harus overcome, bagaimana menyeimbangkan familiy life kalau dia punya putra putri tapi harus continue karir. Oleh karena itu, ini harus dikompensasi dengan afirmasi," ujarnya.
(Taufik Fajar)