JAKARTA — Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyebut perang Rusia-Ukraina mengakibatkan berbagai tekanan dalam perekonomian di berbagai negara termasuk Indonesia, salah satunya dalam industri ritel.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonsus Widjaja mengatakan, perang tersebut mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan dalam sektor perdagangan.
“Ketidakpastian dari konflik yang berdampak pada Indonesia, salah satunya harga-harga, perang antara Rusia dengan Ukraina mengakibatkan berbagai tekanan dalam perekonomian sehingga mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan dalam sektor perdagangan. Khususnya jadi ancaman utama dalam industri usaha ritel,” Kata Alphonzus Widjaja dalam konferensi Pers, Kamis (10/3/2022).
BACA JUGA:Mal Tak Ditutup, APPBI Sebut Ritel Menjerit Imbas Omicron
Sementara itu, dia mengatakan, sejumlah gangguan dalam rantai distribusi dan kenaikan biaya energi mengakibatkan naiknya biaya produksi.
Sehingga dapat mengakibatkan kenaikan harga produk dan barang di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih belum pulih akibat pandemi Covid-19.
“Dalam menghadapi semakin meningkatnya berbagai tantangan ketidakpastian global maka tentunya perdagangan Indonesia yang sangat besar menjadi tumpuan harapan agar perekonomian dalam negeri dapat terus dijaga seminimal mungkin terdampak dari ketidakpastian global,” ungkapnya.
“Untuk mendorong sektor perdagangan dalam negeri maka tentunya sangat diperlukan iklim usaha yang kondusif untuk mendukung peningkatan transaksi perdagangan,” tambahnya.
BACA JUGA:Ritel Pertanyakan Pasokan Minyak Goreng, Produsen Buka Suara
Alphonzus menilai, saat ini penanganan penyebaran Covid-19 relatif sudah jauh lebih baik jika dibandingkan pada saat dua tahun yang lalu.
“Saat ini masyarakat bersama dengan pemerintah sudah jauh lebih memahami langkah mitigasi pandemi Covid-19, sehingga penanganan yang sebelumnya terkesan lebih banyak memberikan penekanan kepada aspek kesehatan maka saat ini sudah jauh lebih lebih seimbang antara aspek kesehatan dan aspek perekonomian,” jelasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)