Setidaknya, terdapat dua hal penyebab kondisi perekonomian Negara Madinah dalam kondisi krisis.
Pertama, masyarakat Muslim Madinah (kaum Ansar) harus menanggung belanja dan kebutuhan ekonomi masyarakat Muslim yang datang dari Mekah (kaum Muhajirin).
Kaum Muhajirin telah meninggalkan rumah, tanah, serta harta bendanya di Mekah, dan banyak di antara mereka yang tidak membawa bekal apa pun.
Oleh karena itu, kebutuhan pangan, sandang, dan papan cukup besar, bahkan mencapai dua kali lipat dari sebelumnya. Salah satu solusi yang ditawarkan Rasulullah terhadap kondisi ini adalah dengan cara mempersaudarakan antara orang Muhajirin dan Ansar satu sama lainnya. Sehingga, kebutuhan kaum Muhajirin dapat terpenuhi oleh kaum Ansar untuk sementara waktu.
Kedua, sumber-sumber perekonomian Madinah saat itu lebih didominasi oleh orang Yahudi dan Nasrani. Pasar Bani Qainuqa’ sebagai sentral perdagangan saat itu dikuasi oleh orang Yahudi.
Oleh karena itu, pantas saja dalam dua setengah tahun pertama pascatinggal di Madinah, Rasulullah SAW dan umat Islam masih bergelut dengan kondisi krisis ekonomi.
BACA JUGA:Ini 8 Sifat Jujur Berbisnis ala Nabi Muhammad SAW
Tak hanya itu, umat Islam pun harus menghadapi peperangan yang sengit yang dilancarkan oleh kaum musyrik Quraisy Mekkah sehingga anggaran belanja negara pun harus dibagi untuk biaya perang.
Seperti dilansir dari Buku Bisnis Ala Nabi karya Mustafa Kamal Rokan, Jakarta, Senin (4/4/2022), dengan dua latar belakang di atas, yakni beban ekonomi yang bertambah dan sumber ekonomi yang belum terkuasai umat Islam, tak dapat dimungkiri bahwa sumber terbesar pendapatan negara saat itu hanya berasal dari harta rampasan perang (ghanimah dan sejenisnya).
Sejarah mencatat, dua bulan sebelum Perang Badar, pihak tentara Islam berjaya mendapatkan hasil rampasan perang.
(Zuhirna Wulan Dilla)