JAKARTA - Nabi Muhammad SAW mampu membangkitkan perekonomian Madinah setelah sebelumnya sempat krisis. Ekonomi Madinah bangkit pascahijrah Nabi Muhammad ke Madinah dari Makkah.
Salah satu agenda utama yang dilakukan Nabi Muhammad SAW sesampainya di Madinah saat hijrah adalah melakukan survei untuk pendirian pasar.
Pengagendaan terhadap survei pasar tentu bukan tanpa alasan. Maklum, sebagai warga baru Madinah, Rasulullah dan para sahabat Muhajirin mengalami banyak kesulitan, terutama menyangkut kebutuhan ekonomi.
Bayangkan saja, Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang selama ini mempunyai aktivitas, rumah, harta benda, binatang ternak, dan sebagainya, harus kehilangan semuanya setelah pindah ke Madinah. Belum lagi biaya perjalanan dan kondisi psikologi yang masih ketakutan karena dikejar-kejar kaum kafir Makkah.
Maka, tak heran kiranya jika pada hari-hari awal kehidupan kaum muslimin, ekonomi mereka sedang mengalami krisis. Terdapat tiga hal penyebab kondisi perekonomian Negara Madinah masih dalam krisis saat itu.
Pertama, masyarakat Muslim asli Madinah atau kaum Ansar harus berani mengambil risiko menanggung belanja dan kebutuhan ekonomi masyarakat Muslim yang datang dari Mekkah atau kaum Muhajirin.
Tentunya, kebutuhan terhadap pangan, sandang, dan papan cukup besar bahkan mencapai dua atau bahkan tiga kali lipat.
Kedua, sumber-sumber perekonomian Madinah saat itu masih didominasi oleh orang Yahudi dan Nasrani. Nah, pantas saja dalam dua setengah tahun pertama di Madinah, Rasulullah SAW dan umat Islam masih bergelut dengan kondisi krisis ekonomi.
Ketiga, ditambah lagi pada saat itu umat Islam harus menghadapi peperangan yang dilancarkan oleh kaum musyrikin Quraisy Makkah, sehingga anggaran belanja negara pun terpaksa harus “dibagi” untuk biaya perang yang sangat merepotkan.