Dalam menghadapi krisis ekonomi saat itu, Rasulullah sebagai kepala negara mampu melakukan strategi yang jitu dengan melakukan dua hal, yakni pertama, Rasulullah SAW langsung melakukan survei pasar sebagai upaya untuk melihat kondisi riil perekonomian masyarakat dan menyiapkan tempat berusaha kaum muslimin yang berasal dari Mekkah.
Kedua, Nabi Muhammad membantu membentuk perkongsian antara kaum Muhajirin dan Ansar di Madinah. Seperti diketahui, kaum Ansar memiliki kebun-kebun yang luas, sedangkan kaum Muhajirin memiliki tenaga dan skill yang baik sekaligus pekerja keras.
“Kaum Ansar menyediakan kebun mereka untuk diolah kaum Muhajirin. Adapun hasil kebun itu berbagi di antara mereka” (HR Bukhari). Demikian dilansir dari Buku Bisnis Ala Nabi karya Mustafa Kamal Rokan, Jakarta, Selasa (5/4/2022).
Melihat sejarah hijrah ini, maka dapat dipahami bersama bahwa sektor ekonomi merupakan sektor yang sangat penting untuk diperhatikan.
Hal ini dapat dipahami dari tindakan awal Rasulullah sesampainya di Madinah. Menurutnya, kehidupan negara dan agama yang sedang dibawanya harus diletakkan di atas ekonomi yang baik dan mapan.
Setelah melakukan survei pasar, Rasulullah menawarkan satu mekanisme dagang dengan cara mempersaudarakan antara orang Muhajirin dan Ansar satu sama lainnya sehingga secara otomatis kebutuhan setiap orang Muhajirin dapat terpenuhi untuk sementara waktu.