Jiwa Entrepreneur Nabi Muhammad SAW dan Strategi Ekonomi

Tim Okezone, Jurnalis
Selasa 05 April 2022 03:01 WIB
Jejak bisnis Nabi Muhammad SAW (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA - Nabi Muhammad SAW mampu membangkitkan perekonomian Madinah setelah sebelumnya sempat krisis. Ekonomi Madinah bangkit pascahijrah Nabi Muhammad ke Madinah dari Makkah.

Salah satu agenda utama yang dilakukan Nabi Muhammad SAW sesampainya di Madinah saat hijrah adalah melakukan survei untuk pendirian pasar.

Pengagendaan terhadap survei pasar tentu bukan tanpa alasan. Maklum, sebagai warga baru Madinah, Rasulullah dan para sahabat Muhajirin mengalami banyak kesulitan, terutama menyangkut kebutuhan ekonomi.

Bayangkan saja, Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang selama ini mempunyai aktivitas, rumah, harta benda, binatang ternak, dan sebagainya, harus kehilangan semuanya setelah pindah ke Madinah. Belum lagi biaya perjalanan dan kondisi psikologi yang masih ketakutan karena dikejar-kejar kaum kafir Makkah.

Maka, tak heran kiranya jika pada hari-hari awal kehidupan kaum muslimin, ekonomi mereka sedang mengalami krisis. Terdapat tiga hal penyebab kondisi perekonomian Negara Madinah masih dalam krisis saat itu.

Pertama, masyarakat Muslim asli Madinah atau kaum ­Ansar harus berani mengambil risiko menanggung belanja dan kebutuhan ekonomi masyarakat Muslim yang datang dari Mekkah atau kaum Muhajirin.

Tentunya, kebutuhan terhadap pangan, sandang, dan papan cukup besar bahkan mencapai dua atau bahkan tiga kali lipat.

Kedua, sumber-sumber perekonomian Madinah saat itu masih didominasi oleh orang Yahudi dan Nasrani. Nah, pantas saja dalam dua setengah tahun pertama di Madinah, Rasulullah SAW dan umat Islam masih bergelut dengan kondisi krisis ekonomi.

Ketiga, ditambah lagi pada saat itu umat Islam harus menghadapi peperangan yang dilancarkan oleh kaum musyrikin Quraisy Makkah, sehingga anggaran belanja negara pun terpaksa harus “dibagi” untuk biaya perang yang sangat merepotkan.

Dalam menghadapi krisis ekonomi saat itu, Rasulullah sebagai kepala negara mampu melakukan strategi yang jitu dengan melakukan dua hal, yakni pertama, Rasulullah SAW langsung melakukan survei pasar sebagai upaya untuk melihat kondisi riil perekonomian masyarakat dan menyiapkan tempat berusaha kaum muslimin yang berasal dari Mekkah.

Kedua, Nabi Muhammad membantu membentuk perkongsian antara kaum Muhajirin dan Ansar di Madinah. Seperti diketahui, kaum Ansar memiliki kebun-kebun yang luas, sedangkan kaum Muhajirin memiliki tenaga dan skill yang baik sekaligus pekerja keras.

“Kaum Ansar menyediakan kebun mereka untuk diolah kaum Muhajirin. Adapun hasil kebun itu berbagi di antara mereka” (HR Bukhari). Demikian dilansir dari Buku Bisnis Ala Nabi karya Mustafa Kamal Rokan, Jakarta, Selasa (5/4/2022).

Melihat sejarah hijrah ini, maka dapat dipahami bersama bahwa sektor ekonomi merupakan sektor yang sangat penting untuk diperhatikan.

Hal ini dapat dipahami dari tindakan awal Rasulullah sesampainya di Madinah. Menurutnya, kehidupan negara dan agama yang sedang dibawanya harus diletakkan di atas ekonomi yang baik dan mapan.

Setelah melakukan survei pasar, Rasulullah menawarkan satu mekanisme dagang dengan cara mempersaudarakan antara orang Muhajirin dan Ansar satu sama lainnya sehingga secara otomatis kebutuhan setiap orang Muhajirin dapat terpenuhi untuk sementara waktu.

Karena kaum Ansar memiliki banyak kebun sedangkan kaum Muhajirin mempunyai skill dan tenaga, dapat dilakukan kerja sama ekonomi yang baik. Hal ini adalah salah satu bentuk akad yang biasa kita sebut dengan mudharabah.

Sistem kerja sama merupakan sistem yang khas dari ekonomi Islam. Sistem ini merupakan inti ekonomi Islam yang telah dijalankan oleh Rasulullah saat remaja hingga saat hijrah di Madinah.

Salah satu faktor utama penyebabnya adalah visi ekonomi umat Islam yang masih lemah. Karenanya, momentum hijrah sangat strategis dengan cara mengembalikan visi ekonomi Rasulullah SAW ketika membangun Madinah.

Sudah saatnya mengembalikan semangat dan jiwa entrepreneur di kalangan umat Islam. Jiwa entrepreneur berarti jiwa yang selalu melakukan kreasi dan tanpa berhenti berinovasi dalam kehidupan.

Jiwa entrepreneur Rasulullah SAW yang telah diasahnya dari kecil (saat berdagang dengan pamannya, Abu Thalib) dan saat remaja (saat berdagang dengan Khadijah) sesungguhnya telah mengasah visi ekonomi Rasulullah dalam lingkup yang lebih luas. Visi itu menjadi modal besarnya ketika menjadi pemimpin agama sekaligus negara.

Jiwa ini telah menjadikan Rasulullah SAW menjadi orang yang cerdas, tanggap, kritis, dan selalu dinamis. Hal ini terlihat dalam kebijakan-kebijakan beliau dalam memimpin negara, baik dalam persoalan hubungan sosial masyarakat, kebijakan politik, bahkan inovasiinovasi beliau dalam memenangkan strategi perang melawan musuh Islam. (Kmj)

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya