JAKARTA – PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) atau Metland membukukan laba bersih sebesar Rp372,01 miliar. Laba Metland naik 36,76% dibandingkan tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp272,29 miliar.
Hasil itu mendongkrak laba per saham dasar menjadi Rp48,6, sedangkan akhir tahun 2020 hanya Rp35,57. Sementara pendapatan tumbuh 8,01% menjadi Rp1,199 triliun yang ditopang kenaikan penjualan tanah dan bangunan sebesar 37,83% menjadi Rp827,85 miliar.
Disusul pendapatan hotel yang tumbuh 19,04% menjadi Rp75,97 miliar. Kemudian pendapatan sewa ruangan turun 16,6% menjadi Rp155,65 miliar. Bahkan penjualan kavling tanah anjlok 79,43% sisa Rp22,323 miliar. Selanjutnya pendapatan jasa pemeliharaan susut 5,5% menjadi Rp51,756 miliar.
Walau beban langsung dan beban pokok pendapatan bengkak 13,16% menjadi Rp593,27 miliar, tapi laba kotor tumbuh 3,4% menjadi Rp605,8 miliar. Menariknya, perseroan pada tahun 2021 membukukan penyesuaian nilai aras penyertaan tanah ke kerja sama operasi senilai Rp70,215 miliar. Pos ini tahun 2020 nihil. Sehingga laba sebelum pajak naik 23,25% menjadi Rp382,77 miliar.
Sementara itu, aset tumbuh 8,04% menjadi Rp6,409 triliun yang ditopang kenaikan saldo laba belum ditentukan penggunaannya sebesar 11,33% menjadi Rp3,094 triliun. Asal tahu saja, tahun ini perseroan menargetkan pendapatan yang terdiri dari marketing sales dan recurring income senilai Rp1,8 triliun.
Direktur Metland Olivia Surodjo seperti dikutip bisnis pernah menyampaikan, perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi untuk merealisasikan target marketing sales termasuk recurring income senilai Rp1,8 triliun tahun ini.
“Kami menciptakan produk-produk yang sesuai dengan permintaan pasar saat ini seperti rumah-rumah compact siap huni dan melengkapi dengan fitur-fitur smart technology sesuai dengan tren saat ini,” jelasnya.
Olivia melanjutkan, kini dengan semakin membaiknya kondisi mobilitas orang di luar ruang maka perseroan pun mulai melakukan expo di lokasi proyek (onsite). Dalam waktu dekat, perseroan berencana menyelenggarakan expo hybrid (online dan onsite).
Dirinya juga mengapresiasi insentif PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah) yang sudah berlangsung sejak tahun lalu. Adapun, PPN DTP resmi diperpanjang hingga Juni 2022 dan diharapkan dapat terus menggeliatkan penjualan produk properti di Indonesia.
Dia pun berharap walaupun PPN DTP diperpanjang hingga akhir semester I/2022, namun proses serah terima kepada konsumen dapat diperpanjang hingga akhir tahun. Dengan demikian, pengembang bakal dapat memaksimalkan waktu untuk pembangunan rumah, terutama untuk produk rumah dua lantai dan rumah bangunan besar.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)