Eco Paper Indonesia bukan membuat kertas tetapi mengolah sampah. Mengolah sampah dari produk yang tadinya tidak ada nilai ekonomis menjadi sesuatu barang yang ada nilai ekonomisnya. ECO memproduksi kertas daur ulang menggunakan kertas bekas, yang salah satunya dikumpulkan dari pengepul kertas bekas.
Fasilitas pinjaman hijau dari HSBC akan digunakan untuk meningkatkan modal kerja ECO dan melipatgandakan kapasitas produksinya menjadi sekitar 22.500 ton kertas daur ulang per bulan. Peningkatan produktivitas ini diharapkan dapat membantu meningkatkan perekonomian para pengepul kertas bekas, sebagai salah satu pemasok kertas bekas.
Hal ini sejalan dengan semangat HSBC yang terus mendukung inovasi terkini dalam solusi iklim dan mengakselerasi investasi yang berkelanjutan. Eri menambahkan, selain memberikan fasilitas pinjaman hijau, HSBC juga memposisikan untuk selalu memberikan dukungan dan bimbingan untuk membantu bisnis usaha nasabah HSBC. Dalam rencana pengembangan strategis yang mendukung tujuan proses transisi menuju emisi yang bersih.
Dukungan ini adalah bagian komitmen dari HSBC untuk memobilisasi produk pembiayaan yang berkelanjutan atau sustainable finance. "Guna mendukung para nasabah kami dan juga untuk pemerintah Indonesia untuk transisi menuju karbon netral dan dari PT Eco Paper Indonesia merupakan nasabah yang pertama yang mendapatkan pinjaman hijau dari PT HSBC Indonesia,” tambah Eri.
Eri menuturkan secara global HSBC berkomitmen untuk menjadi net zero bank pada 2050. Jadi, HSBC juga mempunyai komitmen untuk menuju karbon netral 2050 dan untuk mencapai tujuan ini HSBC mempunyai tiga langkah strategis.