Seperti Long, Ward telah mempertimbangkan biaya pindah dan biaya untuk bertahan dengan kenaikan harga sewa. Akhirnya dia memutuskan dia tidak punya pilihan selain tetap tinggal dan menghadapi kenaikan harga.
"Saya tidak punya uang untuk pindah. Saya seperti terjebak," ucapnya.
Apa yang terjadi selanjutnya?
Dan sepertinya harga sewa akan terus naik. Perusahaan pinjaman hipotek AS, Fannie Mae, memperkirakan dalam survei Maret lalu bahwa 67% penyewa di AS akan terus menghadapi harga sewa yang meningkat pada tahun 2022.
Untuk melindungi penyewa, Chandan menyebut perlu banyak kebijakan yang harus diambil otoritas, meskipun sering kali sulit diambil.
Pemerintah Kota Berlin, misalnya, mengesahkan regulasi pada tahun 2020 yang membatasi sewa. Namun pengadilan tinggi Jerman dengan cepat membatalkan aturan itu setahun kemudian dan menganggap regulasi itu inkonstitusional.
Bagaimanapun, karena percaya ini adalah masalah penawaran dan permintaan, Chandan menyebut solusi lain yang mungkin diambil adalah mengubah semua ruang kantor kosong selama dua tahun menjadi tempat tinggal.
Walau langkah seperti itu mahal dan membutuhkan proses lama di kota-kota seperti New York, para peneliti memperkirakan hal itu dapat menciptakan lebih dari 14.000 tempat tinggal baru.
Otoritas New York telah mengambil tindakan serupa dengan mengosongkan kantor di Lower Manhattan pada setelah serangan teror di Menara Kembar tahun 2001.
Odioso, yang kini tinggal di Ohio, menyebut banyak orang yang dia kenal di New York menunggu persoalan harga sewa ini dipecahkan. Ini dilakukan oleh mereka yang belum terdampak masalah ini.
"Banyak teman dan rekan kerja saya mengalami hal yang sama, pindah dari Manhattan atau keluar dari New York," katanya.
"Teman-teman saya yang belum harus memperbarui sewa masih ingin mengetahui seberapa besar dampak itu kepada mereka," ucap Odioso.
(Taufik Fajar)