JAKARTA - Pada awal 2022, Lauren Odioso yang berusia 25 tahun tinggal bersama tiga teman di flat dengan tiga kamar tidur di kawasan utara Manhattan, New York.
Namun ketika harga sewa flatnya melonjak April lalu, dari USD2.600 (Rp37 juta) per bulan menjadi USD5.200 (Rp75 juta), perempuan yang berprofesi sebagai aktor itu kesulitan membayar.
"Biaya sewa bulanan saya saat ini akan naik dari $866 (Rp12 juta) menjadi USD1.733 (Rp25 juta)- meningkat hampir USD900 (Rp13 juta)," ujarnya.
"Reaksi pertama saya adalah terkejut, lalu segera menyadari bahwa memperbarui sewa flat ini bukanlah pilihan yang bisa saya ambil. Saya merasa sangat marah dan tidak berdaya," kata Odioso.
Odioso selama ini juga bekerja sebagai barista di Starbucks selama pandemi Covid-19. Dia mengalami persoalan finansial jika hanya bekerja di industri jasa selama pandemi, terutama akibat kenaikan harga utilitas dan kehidupan sehari-hari di New York.
Dan Mei lalu, beban keuangannya menjadi terlalu berat. Dia meninggalkan New York, pindah bersama kekasihnya ke kota yang lebih murah, yaitu Cleveland, di negara bagian Ohio.
Situasi ini membuat ribuan penyewa terpojok. Banyak dari mereka hampir tidak mampu bertahan secara finansial.
Kondisi ini tidak hanya terbatas pada pusat metropolitan utama seperti New York. Di seluruh AS, harga sewa tempat tinggal naik 11,3% tahun lalu. Tren ini juga terjadi di banyak kota di seluruh dunia.
Tapi apa persoalan terbesar dari situasi ini? Para ahli khawatir kondisinya justru akan memburuk pada periode ke depan.