BALI - Menteri Keuangan (Menkeu) Amerika Serikat Janet Yellen menyebut Rusia menjadikan pangan sebagai alat perang. Dia menilai aksi Rusia yang memblokade Laut Hitam menjadi penyebab krisis pangan.
Menurutnya blokade tersebut menghambat distribusi biji-bijian (grains) Ukraina, di antaranya gandum dan jagung, yang menjadi salah satu sumber pangan dunia.
"Tindakan Putin sama dengan menggunakan pangan sebagai senjata perang," kata Yellen di Nusa Dua, Jumat (15/7/2022).
Dampaknya, Yellen menjelaskan banyak kelompok masyarakat miskin di negara-negara kurang mampu dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit.
“Banyak keluarga yang telah berhemat untuk membeli makanan, terpaksa kembali mengurangi jatah makanannya. Negara-negara berpendapatan rendah, yang saat ini mengalami kesulitan fiskal, ditambah kesulitan mengimpor bahan-bahan pangan, dan pupuk, dan menyediakan jaring pengamanan sosial untuk rakyatnya,” ujarnya.
Menghadapi krisis pangan, kata Yellen, tidak perlu lagi membentuk institusi baru untuk mengatasi krisis pangan global. Janet menyarankan agar organisasi dan forum yang ada saat ini untuk bekerja sama lebih erat dengan negara-negara dalam menangani krisis pangan global.
"Kita tidak membutuhkan institusi baru. Yang kita butuhkan adalah koordinasi yang kuat, berbagi pengetahuan, penelitian dan pengembangan, pendanaan dan tindakan," tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memperingatkan krisis pangan akan berlangsung hingga tahun depan. Bahkan tidak menutup kemungkinan krisis pangan terjadi dalam waktu yang lama.
"Ini bukan kabar baik bagi kita semua. Pandemi yang belum selesai dan perang yang berlangsung di Ukraina kemungkinan akan memperburuk ketahanan pangan akut 2022 yang sudah parah, yang kita semua sudah lihat bersama," kata Sri Mulyani.
Selain krisis pangan, Sri Mulyani memandang krisis pupuk yang terjadi saat ini akan mengancam ketahanan pangan. Sri Mulyani bilang, krisis pangan bisa terjadi hingga 2023 dan waktu selanjutnya.
"Krisis pupupk yang mengancam juga berpotensi memperburuk krisis pangan hingga 20223 dan seterusnya. Ada urgensi di mana krisis pangan ini harus ditangani," jelasnya.
(Taufik Fajar)