5 Fakta Ekonomi 2023 Diprediksi Resesi, Buruh Resah 'Monster' PHK

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis
Minggu 16 Oktober 2022 03:02 WIB
Ilustrasi resesi. (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA – Ancaman resesi global terus membayangi dunia.

Banyak negara yang diprediksi akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonominya.

Bahkan, Dana Moneter Internasional (IMF) memberi peringatan terkait adanya kemungkinan negara yang jatuh ke jurang resesi.

Berikut fakta ekonomi 2023 bakal resesi yang dirangkum Okezone di Jakarta, Minggu (16/10/2022).

1. AS Diprediksi Alami Resesi Ringan

Prospek Ekonomi Global dari wadah pemikir (think tank) Peterson Institute for International Economics (PIIE) memprediksi Amerika Serikat akan mengalami resesi ringan pada 2023.

Nonresident Senior Fellow PIIE sekaligus profesor Harvard, Karen Dynan, yang memimpin penulisan prospek tersebut, memproyeksikan bahwa ekonomi AS akan mengalami kontraksi 0,5% pada 2023, dengan pertumbuhan yang terhenti membuka jalan bagi penurunan.

 

Secara kumulatif, revisi penurunan pada perkiraan itu menempatkan proyeksi level PDB AS pada 2023 lebih dari 3 poin persentase lebih rendah dari tingkat yang diproyeksikan pada April, kata Dynan.

Dynan, mantan asisten sekretaris untuk kebijakan ekonomi dan kepala ekonom di Departemen Keuangan AS, juga memperkirakan bahwa inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) inti AS akan menurun dari laju 4,6 persen selama empat kuartal pada 2022 menjadi 3,6 persen selama empat kuartal pada 2023, masih jauh di atas target 2% yang ditetapkan bank sentral AS, The Fed.

2. The Fed Mungkin Perlu Menaikkan Suku Bunga Acuan

The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga acuan lebih dari yang telah resmi ditetapkan, dan soft landing dapat terjadi tetapi itu bukanlah kemungkinan yang paling berpotensi terwujud, kata Dynan, menyebutkan bahwa kemungkinan bahwa AS akan memasuki resesi pada 2023 mencapai dua pertiga.

Dynan memproyeksikan bahwa tingkat pengangguran akan memuncak tahun depan di angka 5,5%, lebih tinggi dari proyeksi median The Fed yaitu 4,4% per akhir 2023, sebagaimana disampaikan dalam proyeksi ekonomi kuartalan terbaru The Fed.

3. Dunia Saat Ini Tidak Baik-Baik Saja

Dunia saat ini tidak baik-baik saja. Pemulihan ekonomi global akibat pandemi Covid-19 yang diharapkan tidak berjalan maksimal.

Dunia baru ingin bangkit dari pandemi, namun kembali dihadapkan dengan masalah perang Rusia-Ukraina yang tidak kunjung selesai.

Dampak perang Rusia-Ukraina sangat meluas, efeknya yaitu krisis pangan, energi hingga keuangan yang sudah melanda di berbagai negara.

Selain pandemi Covid-19, perang dan krisis pangan, kini dunia juga dihadapkan dengan ancaman lonjakan inflasi hingga perubahan iklim.

Hal inilah yang disebut sebagai badai ekonomi atau istilah yang dipakai pejabat negara yaitu perfect strom.

Dengan adanya badai hebat ekonomi ini menimbulkan ancaman resesi global 2023.

Banyak negara ekonominya akan runtuh, masyarakat dunia kelaparan hingga jeratan utang yang sangat besar.

Lembaga keuangan internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank pun sudah memperingatkan ancaman resesi global 2023.

"Ada risiko dan bahaya nyata dari resesi dunia tahun depan," kata Presiden Bank Dunia David Malpass.

4. Gelombang PHK Besar-besaran

Ancaman resesi ekonomi global dikhawatirkan memicu badai PHK.

Bayang-bayang resesi ekonomi global seperti awan gelap bagi pengusaha.

Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Diana Dewi mengungkapkan, kondisi ini akan mengganggu masuknya modal investor ke Indonesia.

Alhasil, investor cenderung akan mengalihkan dananya ke safe haven, seperti emas dan dolar AS.

"Kondisi perekonomian global saat ini memang masih di liputi oleh ketidakpastian, terakhir kita sama-sama ketahui beberapa aktivitas perekonomian di Amerika juga mengalami kontraksi tentunya hal ini semakin memperkuat risiko akan terjadinya resesi perekonomian dunia. Bagi Indonesia sendiri kondisi ini pastinya akan berpengaruh dalam perekonomian nasional, terutama di bidang investasi," ujar Diana kepada MNC Portal Indonesia, Selasa (11/10/2022).

Selain itu, lanjut Diana, resesi akan membuat keuangan investor yang selama ini menanamkan modal di Indonesia terganggu, sehingga tidak hanya memperkecil investasi yang masuk, tapi investasi existing pun bisa mangkrak.

Dia khawatir, bila kondisi di atas tidak terkendali maka akan terjadi gelombang PHK besar-besaran mengingat kinerja manufaktur yang terganggu.

"Untuk itu kami berharap kinerja manufaktur akan tetap terjaga sebagai tulang punggung perekonomian nasional," pungkas Diana.

5. Tanggapan Buruh soal Monster PHK

Presiden Partai Buruh Said Iqbal tidak menampik kemungkinan ini. Karena penolakan atas kenaikan harga serta PHK besar-besaran juga disuarakan oleh buruh Indonesia.

Di mana partai buruh mengecam keras cara pemerintah menebar rasa takut kepada kaum buruh.

“Hentikan kalimat ‘kebohongan’ dan ‘provokatif’ yang menyatakan ancaman resesi akan menimbulkan dampak serius,” ujar Said di Jakarta, Selasa (11/10/2022).

Dia menegaskan, tugas para menteri seharusnya menumbuhkan optimisme dan melakukan langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi resesi.

"Para menteri yang menyatakan ancaman di depan mata adalah provokatif dan menimbulkan monster ketakutan bagi kaum buruh dengan momok monster PHK. Oleh karena itu, partai Buruh mengecam keras kalimat yang pesimis yang bertentangan dengan sikap Presiden Jokowi yang menyuarakan optimisme,” tegasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya