JAKARTA – Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Sambera 40 MW (portable) dual fuel dibangun untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di wilayah Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara. Sayangnya PLTG Sambera berpotensi mandeg karena belum diselesaikannya pembayaran kontrak kerja oleh PTGN.
Pengamat Energi Komaidi Notonegoro menilai bahwa pemerintah harus berpikir dengan bijak terkait dengan keberlangsungan proyek tersebut PLTG Sambera.
"Sebab suplai listrik untuk wilayah Kaltim khususnya IKN memang didesain dengan memanfaatkan energi bersih (EB) dan energi baru terbarukan (EBT)," ujar Komaidi, Kamis (9/3/2023).
Sementara itu, Peneliti INDEF Nailul Huda mengatakan, PTGN sebaiknya sudah punya back up plan terkait masalah ini. Hal ini mengingat adanya potensi kerugian negara akan timbul apabila ada kekalahan akibat gugatan PT Risco Energy Pratama, karena ada uang negara yang harus dipertanggungjawabkan.
"Jika mangkrak maka selain pasokan listrik ke IKN bisa terganggu, namun yang harus digarisbawahi adalah janji presiden untuk menggunakan energi bersih, jangan sampai diingkari lagi," katanya.
Huda mengatakan jika peluang gasifikasi listrik tersebut juga perlu didukung dengan komitmen pemerintah mengganti PLTU dari batubara ke gas yang lebih ramah lingkungan.
Sementara Juru Bicara PT Risco Energi Pratama Aditya Pratama menyebutkan dirinya berharap PTGN bisa duduk bersama untuk menyelesaikan kewajibannya terhadap investasi yang diberikan dalam proyek gasifikasi PLTG Sambera.
"Pada prinsipnya kami selaku partner PT GN dalam proyek ini siap untuk duduk bersama memikirkan jalan terbaik. Sebab selama ini kami merasa pimpinan PTGN tidak serius mengelola PLTG Sambera," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Sambera berkapasitas 2×20 Mega Watt (MW), sumber energi PLTG Sambera menggunakan regasifikasi Liquid Natural Gas (LNG) dengan moda transportasi trucking pertama kali di Indonesia. Metode tersebut menjadi solusi pasokan gas ke konsumen yang tidak terjangkau dengan pipa gas. Dengan menggunakan LNG, PLN dapat menghemat biaya energi primer sebesar Rp70 miliar per tahun.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)