JAKARTA - Diduga 34 juta data paspor mengalami kebocoran. Direktur Jendral Imigrasi, Kementrian Hukum dan HAM, Silmy Karim memberikan penjelasan terkait tersebut.
Silmy Karim memaparkan bahwa saat ini data-data biometrik pada paspor milik masyarakat masih dalam keadaanya yang rahasia. Maka dapat dipastikan data masyarakat seperti pemindai retina, iris, fingerprint, face biometrik, voice recognition hingga DNA mmasih dalam status tidak bocor ke pihak lain.
"Pertama kita harus memberikan keyakinan bahwa data mengenai biometric itu aman. Tidak ada yang bocor. Artinya masyarakat tidak perlu khawatir. Biometric tidak ada bocor," ujar Silmy Karim di MNC Conference Hall.
Selain itu, Silmy memaparkan bahwa pihaknya telah mengumpulkan ISO 27001-2022 atau setara dengan Standar Internasional yang telah dikeluarkan oleh Internasional Organization for Standardization (ISO) mengenai Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI) dalam upaya menjaga data agar tetap bersifat rahasia dan aman.
"Jadi kalau saya melihat laporan tim, itu bukan berarti bocor ke hacker, belum tentu. Yang penting bukan data biometrik, data text dasar (kemungkinan bocor) yang saya dapat dari penyelidikan," lanjutnya.
Kominfo sebelumnya membuat laporan kepada Direktorat Jenderal Imigrasi Kementrian Hukum dan HAM terkait dugaan kebocoran data paspor warga Indonesia sebanyak 34.900.867.
Hal tersebut mendapaT respon dari Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel A. Pangerapan untuk melakukan investigasi awal dengan membentuk Tim Investigasi Perlindungan Data Pribadi baik dari website yang menawarkan data itu maupun informasi dari masyarakat.
"Berdasarkan hasil sampling memang terdapat kemiripan namun belum dapat dipastikan. Dari detil diduga diterbitkan sebelum perubahan peraturan paspor menjadi 10 tahun, karena masa berlakunya terlihat hanya 5 tahun,” jelasnya di Kantor Kementerian Kominfo.
Baca Selengkapnya: Dirjen Imigrasi Buka Suara soal 34 Juta Data Paspor Masyarakat Diduga Bocor
(Taufik Fajar)