JAKARTA - Bagi para orangtua hal ini sangat penting untuk dipahami. Jangan juga disalah artikan soal anak bukan investasi bagi orangtua. Sebab nantinya orangtua akan berharap akan mendapat keuntungan finansial dari anaknya.
Financial Planner dan CEO ZAP Prita Ghozie Hapsari menjelaskan, setiap orangtua tentu ingin kasih yang terbaik untuk anaknya. Tapi orangtua juga perlu seimbang alokasi penghasilan untuk pos dana pendidikan dan pos dana pensiun.
"Masa pensiun itu tanggung jawab kita sendiri. Investasi dana pensiun itu boleh di aset produktif dan aset portofolio, bukan di kesuksesan anak ya," tulis keterangan akun Instagram @pritaghozie.
Selain itu harus dipahami juga bahwa investasi berbeda dengan amanah. Bila orangtua berharap memetik hasil dari menyekolahkan anak hingga sukses tidaklah benar.
Kesuksesan anak bukanlah untuk mengganti sebuah investasi berupa biaya pendidikan yang sudah dikeluarkan orangtua. Karena sekolah dan pendidikan anak adalah tanggung jawab orangtua.
"Menyiapkan pendidikan yang baik untuk anak adalah tanggung jawab orangtua, bukan untuk manjain. Tapi juga mesti mikir untuk gimana biar punya daya juang, ga ngandelin privilege yang ada," kata Prita
Sementara itu, anak adalah amanah. Maka orangtua harus memiliki rencana keuangan yang tepat dalam mendidik anak, termasuk biaya pendidikan anak. Mempersiapkan biaya pendidikan anak tidak boleh sembarangan, bahkan tidak boleh salah.
"Financial Journeynya awal menikah fokus dana pendidikan, start mid30an fokus dana pensiun. Pahami kemampuan masing-masing = koentji," ujar Prita.
Selama masa perencanaan dana pendidikan masa depan, setiap orangtua yang masih berusia produktif sebaiknya tidak lupa untuk membeli asuransi jiwa. Sehingga, jika terjadi risiko kematian bagi pencari penghasilan, maka dana investasi akan tergantikan dengan uang pertanggungan asuransi jiwa. Menyusun dana pendidikan adalah kewajiban setiap orangtua.
"Inget aja orangtua bukan dana darurat, anak bukan dana pensiun, dan teman bukan paylater," imbuh Prita.
(Feby Novalius)