Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan kebutuhan BBM jenis Biosolar di Provinsi Banda Aceh pada tahun 2025, termasuk penanganan bencana alam, mencapai 428.324 KL. Sedangkan realisasi penyaluran Pertalite, termasuk untuk kebencanaan, mencapai 576.147 KL. Selama bencana yang terjadi akhir November hingga Desember 2025, terjadi peningkatan kebutuhan BBM sebanyak 8%. Namun secara nasional, realisasinya masih di bawah kuota yang ditetapkan, yaitu antara 95 hingga 98%.
Wahyudi mengungkapkan upaya luar biasa PT Pertamina Group untuk menormalisasi penyediaan dan penyaluran BBM di Aceh, terutama di daerah terdampak bencana.
“Pertamina Patra Niaga yang memiliki tanggung jawab penuh untuk melakukan normalisasi penyediaan dan penyaluran BBM di Aceh, terutama di wilayah terdampak bencana. Kami juga berupaya membantu memperlancar penyaluran BBM untuk masyarakat dan tentunya implementasinya sesuai dengan tata kelola sesuai aturan yang berlaku,” katanya.
Bencana Sumatera ini juga diharapkan menjadi pelajaran agar skema distribusi Reguler, Alternatif, dan Emergency (RAE) selalu diaktifkan untuk memastikan kebutuhan BBM masyarakat terpenuhi.
Sementara itu, Anggota Komite BPH Migas, Bambang Hermanto, juga mengapresiasi Pertamina Patra Niaga atas kerja keras dan kerja sama yang baik sehingga penyaluran BBM dapat dilaksanakan dengan baik melalui pelbagai moda transportasi, seperti jalur udara dengan menggunakan pesawat Hercules, kapal laut, maupun darat.