Berdasarkan data per 20 Januari 2026 Bank Indonesia memegang SBN sebesar Rp1.646,41 triliun (24,81 persen dari total), Perbankan memegang Rp1.339,98 triliun (20,22 persen dari total) dan SBN Ritel hanya berkontribusi 8,09 persen karena minat individu beralih ke aset aman seperti emas dan dolar.
"Risiko untuk tidak tercapai membesar karena asing tampak masih 'wait and see'. Selain disebabkan faktor ketidakpastian keuangan global, mereka mencermati kebijakan fiskal Indonesia yang terkesan kurang hati-hati (prudent)," tambah Awalil.
Awalil menggambarkan situasi ini dalam skala risiko 1-5. Ia menilai dampak buruknya berada pada level 4 (Tinggi), sementara kemungkinan terjadinya (likelihood) kini merangkak naik ke level 4 (Sangat Mungkin Terjadi).
Tanpa strategi pengelolaan fiskal yang lebih disiplin, pemerintah diprediksi akan mengalami kesulitan besar dalam mengamankan pembiayaan sebesar Rp1.650 triliun untuk menjaga keberlanjutan APBN 2026.
(Feby Novalius)