JAKARTA - Langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75 persen pada Februari 2026 dinilai sebagai strategi "rem dan gas" yang terukur. Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman melihat bahwa BI saat ini tengah memprioritaskan stabilitas nilai tukar Rupiah dalam jangka pendek, namun tetap menjaga nafas pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan makroprudensial.
Menurut Faisal, meskipun BI masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga di masa depan, otoritas moneter tersebut tidak akan terburu-buru demi menjaga daya tarik aset domestik.
“Bank Indonesia itu stance-nya untuk jangka pendek itu memang akan lebih pro pada stabilitas. Tetapi makroprudensialnya itu memang tetap akan pro-growth. BI memang masih ada ruang pemotongan suku bunga, tetapi tidak akan terburu-buru,” ujar Faisal dalam Media Briefing PIER Economic Review 2025, Jumat (20/2/2026).
Terkait dampak kebijakan ini terhadap sektor perbankan, Faisal mencatat bahwa ruang penurunan suku bunga kredit sebenarnya masih terbuka lebar. Hal ini dikarenakan transmisi dari pemotongan suku bunga agresif yang dilakukan BI sejak tahun lalu belum terserap sepenuhnya oleh industri perbankan.
Namun, penurunan suku bunga kredit tidak hanya bergantung pada BI Rate, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh sisi permintaan (demand) dari pelaku usaha dan konsumen.
“Apa yang menyebabkan itu sulit untuk turun, itu memang akan ada dari sisi demand-nya. Kalau bisnis lakukan ekspansi, demand-nya ada, dan memang dari sisi permintaan juga cukup bagus, maka nanti dari sisi perbankan menilainya akan ada peluang di sana. Sehingga secara gradual juga suku bunga kredit juga bisa ada penurunan,” jelas Faisal.
Mengenai risiko pelemahan Rupiah yang belakangan ini cukup dalam dibandingkan negara Asia Pasifik lainnya, Permata Bank menekankan bahwa stabilitas nilai tukar tidak bisa dibebankan hanya kepada Bank Indonesia melalui intervensi pasar.