JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan mengenai perpanjangan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) Freeport-McMoRan (FCX) di Papua setelah 2041. Dengan perpanjangan ini, kepemilikan saham pemerintah Indonesia di PT Freeport Indonesia (PTFI) juga naik menjadi 63 persen.
Bahlil menjelaskan tambahan divestasi 12 persen saham tersebut akan diberikan tanpa biaya pada saat perpanjangan kontrak operasi tahun 2041. Dengan skema ini, porsi kepemilikan nasional diproyeksikan meningkat signifikan dari komposisi saat ini, di mana Indonesia melalui holding pertambangan MIND ID telah menguasai sekitar 51 persen saham Freeport Indonesia sejak proses divestasi 2018.
Menurutnya, peningkatan kepemilikan tersebut akan berdampak langsung pada penerimaan negara, baik dari dividen, royalti, maupun pajak. Pemerintah juga menargetkan distribusi manfaat ekonomi lebih merata karena sebagian pendapatan negara akan dialokasikan kepada pemerintah daerah penghasil tambang.
"Di dalam perpanjangan 2041 nantinya, diharapkan pendapatan negara harus jauh lebih tinggi ketimbang pendapatan negara yang ada sekarang ini, termasuk royalti dan pajak-pajak lain khususnya emas," kata Bahlil dalam konferensi pers secara virtual dari Amerika Serikat, Jumat malam (20/2/2026).
Sebagian dari tambahan 12 persen saham itu juga akan dibagikan kepada pemerintah daerah Papua sebagai daerah penghasil.
Selain itu, Bahlil berharap perpanjangan izin tersebut dapat menjaga keberlanjutan usaha dan membuka peluang kerja di Papua, serta mendorong peningkatan pendapatan daerah dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Perpanjangan izin Freeport di Papua, menjadi upaya untuk eksplorasi cadangan baru, sekaligus strategi peningkatan pendapatan negara dan menjaga keberlanjutan produksi. Bahlil mengatakan hal ini juga seiring dengan perkiraan puncak produksi Freeport yang akan terjadi pada tahun 2035.
“Secara kebetulan, puncak produksi Freeport itu puncak-puncaknya 2035. Kita tahu bahwa konsentrat Freeport sekarang memproduksi satu tahun pada saat belum terjadi musibah itu mencapai 3,2 juta ton biji konsentrat tembaga, yang menghasilkan kurang lebih sekitar 900 ribu lebih tembaga dan kurang lebih sekitar 50 sampai 60 ton emas,” kata Bahlil.
“Oleh karena tahun 2035 adalah puncaknya (produksi), maka kita berpandangan bahwa penting untuk kita mencari solusi dalam rangka eksistensi dan keberlanjutan usaha di Timika, di Papua,” ujar dia.
Menteri ESDM menambahkan, pemerintah Indonesia, MIND ID, dan Freeport juga telah melakukan komunikasi intens terkait skema perpanjangan izin tersebut.
(Dani Jumadil Akhir)