JAKARTA - Di tengah cuaca yang kian tidak menentu dan kondisi geografis Indonesia yang kompleks, persoalan alamat sering kali menjadi tantangan tersendiri. Sebab, akurasi lokasi bukan lagi sekadar navigasi, melainkan penentu keselamatan dan efisiensi bisnis.
Tak sedikit pengemudi layanan antar atau armada logistik yang harus berputar-putar hanya untuk menemukan pintu masuk gedung yang tepat. Situasi ini bukan hanya menyita waktu, tetapi juga dapat berdampak pada efisiensi operasional.
Hal ini melalui geocoding generasi berikutnya dari Google Maps Platform. Teknologi ini melampaui koordinat standar dengan fitur building outlines (garis luar bangunan) dan entrances (pintu masuk) kemampuan untuk menentukan titik presisi hingga ke pintu masuk gedung, lobi spesifik, atau titik jemput yang paling akurat.
Geocoding dengan detail last-meter melalui fitur building entrances dan outlines membuka peluang baru bagi perusahaan untuk melihat lokasi lebih dari sekadar titik di peta.
"Kita tidak lagi bicara soal di mana alamatnya, tapi di mana akses masuknya. Dalam konteks operasional yang dinamis, data ini membantu kita membuat keputusan yang lebih cepat dan akurat, baik untuk pelayanan pelanggan maupun mitigasi risiko operasional,” ujar Chief Technology Officer Terralogiq Farry Argoebie dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Geocoding sebelumnya hanya menempatkan pin di tengah bangunan saja atau di jalan utama. Dengan fitur ini, pengguna kini dapat melihat footprint (tapak) bangunan yang sebenarnya secara visual. Hal ini menghilangkan spekulasi saat navigasi di dunia nyata, karena posisi bangunan terhadap struktur di sekitarnya sangat terlihat dengan jelas.