Ketidakpastian pasar keuangan global saat ini berakar dari puncak ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi udara besar-besaran bersandi "Operation Epic Fury" yang menyasar kompleks militer dan fasilitas nuklir Iran. Serangan ini dilaporkan menimbulkan korban jiwa ratusan warga sipil dan indikasi gugurnya sejumlah pejabat tinggi militer Iran.
Kemudian Iran merespons dengan meluncurkan rudal balistik ke basis pasukan AS dan sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, hingga Irak.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan pembatasan akses terhadap Selat Hormuz, rute transit vital bagi 20–25 persen pasokan minyak dan LNG dunia. Jalur ini dinyatakan tidak aman bagi pelayaran sipil.
Ancaman gangguan pasokan energi ini memicu lonjakan harga minyak mentah dan penguatan Dolar AS, yang secara otomatis menekan mata uang negara berkembang (emerging markets) termasuk Rupiah.
Melalui kehadiran BI di pasar, pemerintah berharap tekanan terhadap nilai tukar dapat terkelola dengan baik sehingga tidak memberikan dampak inflasi yang berlebihan terhadap harga-harga barang di dalam negeri.
(Taufik Fajar)