JAKARTA – Distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan avtur menjadi salah satu aspek krusial yang perlu dipastikan kelancarannya, terutama di tengah peningkatan mobilitas masyarakat selama Ramadhan dan arus mudik Lebaran 2026. Kesiapan armada, sistem pemantauan, serta petugas lapangan menjadi faktor penting untuk menjaga pasokan energi tetap aman dan tepat waktu, termasuk di wilayah dengan tantangan geografis dan potensi bencana.
Pengalaman para awak mobil tangki (AMT) dalam menghadapi medan berat hingga situasi darurat turut menjadi bagian dari upaya menjaga kelancaran distribusi tersebut. Salah satunya terjadi di wilayah dataran tinggi Aceh, ketika seorang pengemudi tangki sempat terjebak longsor saat menjalankan tugas pengiriman BBM. Peristiwa itu mencerminkan tantangan yang dihadapi petugas di lapangan dalam memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.
Memasuki periode Satuan Tugas Ramadhan–Idul Fitri (Satgas Rafi) 2026, penguatan sistem pengawasan, mitigasi risiko, serta pengaturan operasional dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dan gangguan distribusi. Langkah ini ditempuh guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas dan merayakan Idul Fitri dengan lebih tenang.
Direktur Operasi dan Marketing PT Elnusa Petrofin, Ferdiansyah, menegaskan bahwa dalam pelaksanaan Satgas Ramadhan–Idul Fitri 2026, perusahaan mengedepankan prinsip HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) sebagai prioritas utama, sejalan dengan arahan PT Pertamina (Persero).
“Distribusi energi pada momentum Ramadhan–Idul Fitri merupakan misi pelayanan nasional. Kami memastikan seluruh AMT, armada mobil tangki, dan sistem pemantauan seperti Road Traffic Control (RTC) beroperasi dalam kondisi optimal. Pengalaman di berbagai kondisi darurat, termasuk bencana alam, menjadi pembelajaran berharga dalam memperkuat mitigasi risiko dan kesiapan operasional kami,” jelas Ferdiansyah, Rabu (4/3/2026).
Dalam persiapan satgas, Elnusa Petrofin mengerahkan ribuan AMT dan ribuan unit mobil tangki yang terintegrasi dengan sistem pengawasan digital berbasis GPS dan CCTV. Pemantauan dilakukan secara real time melalui RTC untuk mengantisipasi kepadatan arus mudik, potensi cuaca ekstrem, maupun gangguan distribusi di titik-titik krusial. Rest area khusus AMT serta pengaturan jam kerja juga diterapkan guna memastikan kebugaran dan keselamatan pengemudi selama periode operasional intensif.