JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara mengenai langkah lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings yang memangkas outlook (prospek) peringkat utang Indonesia menjadi negatif. Purbaya menilai adanya celah komunikasi yang membuat program pemerintah belum tersampaikan dengan optimal kepada para pengambil kebijakan global.
Maka itu, Purbaya berencana melakukan perjalanan ke luar negeri pada April mendatang, yang diketahui bertepatan dengan pertemuan IMF-World Bank di Washington DC, Amerika Serikat, guna melakukan fungsi "marketing" dan mengklarifikasi arah kebijakan fiskal Indonesia.
"Mungkin karena pemerintahan baru dan Menteri Keuangan juga baru, jadi mereka sangsi jangan-jangan Menteri Keuangan enggak bisa ngitung. Jadi itu kesalahan saya juga karena saya enggak pernah ke luar negeri kan," ujar Purbaya dalam acara Media Briefing dan Buka Puasa Bersama di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Purbaya mengakui bahwa sebelumnya ia memilih untuk fokus membenahi ekonomi domestik hingga mencapai target pertumbuhan tertentu.
Namun, melihat sentimen pasar global yang merespons negatif meski kinerja ekonomi dalam negeri cukup solid, ia memutuskan untuk terjun langsung ke panggung internasional.
"April saya akan keluar negeri untuk memastikan bahwa Menteri Keuangan kita ngerti lah apa yang dikerjakan," tegasnya.
Langkah ini diambil untuk menangkis penilaian Fitch yang menyoroti adanya ketidakpastian kebijakan dan potensi pelonggaran fiskal yang terlalu agresif demi mengejar ambisi pertumbuhan ekonomi tinggi di era pemerintahan baru.
Di hadapan awak media, Menkeu menekankan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki rekam jejak yang luar biasa dalam mengendalikan gejolak ekonomi sepanjang tahun 2025 tanpa melanggar batas aman fiskal. Purbaya optimistis pertumbuhan ekonomi ke depan akan lebih akseleratif.
"Kalau hitungan kita, sepertinya kita tumbuh 5,5 sampai 6 persen. Mudah-mudahan lebih cepat dari 5,5. Signifikannya ada 5,5 persen. Itu secara otomatis akan palingnya membuat impresi awal bahwa di sini pertumbuhannya berkesinambungan," tutur Purbaya.
Purbaya juga menjawab kekhawatiran Fitch mengenai melemahnya pendapatan negara. Meskipun belanja negara melonjak 41,9 persen menjadi Rp493,8 triliun demi membiayai program prioritas, penerimaan pajak tetap menunjukkan performa kuat dengan pertumbuhan 30,4 persen hingga Februari 2026.
Hingga saat ini, defisit APBN masih terjaga di level 0,53 persen terhadap PDB, jauh di bawah batas aman undang-undang sebesar 3 persen. Untuk memperkuat sisi pendapatan, Purbaya pun melakukan langkah tegas dengan melakukan perombakan personel di Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai.
"Salah satu konsep mereka adalah pendapatan pajak, bea cukai yang lain-lain katanya berisiko karena tahun-tahun lebih rendah dari tahun sebelumnya. Tapi kita pastikan ini akan membaikkan ini. Saya sudah mengocok ulang-ulang orang-orang pajak, bea cukai juga sama," pungkasnya.
(Dani Jumadil Akhir)